Dalam seminggu terakhir, pasar keuangan global mengalami guncangan volatilitas yang signifikan. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Meskipun begitu, pasar crypto justru masih stabil. Bitcoin akhirnya berhasil mencapai $73.000 dan beberapa altcoin ditutup dengan kenaikan mingguan di atas 20%.
Situasi Konflik Iran
- Krisis Energi Global: Buntut dari konflik ini adalah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur krusial yang dilewati sekitar 20% suplai minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus level $100 per barel.
- Pelemahan Pasar Saham: Lonjakan harga energi memicu ketakutan baru akan inflasi global yang berkepanjangan dan pupusnya harapan pemangkasan suku bunga acuan. Indeks saham global seperti S&P 500, Dow Jones, serta pasar Asia seperti Nikkei dan KOSPI mengalami aksi jual (sell-off) yang cukup tajam.
- Resiliensi Kripto: Menariknya, di tengah kepanikan pasar ekuitas, pasar kripto menunjukkan anomali. Bitcoin (BTC) dan aset kripto utama lainnya justru menunjukkan daya tahan (resilience) yang luar biasa, berbalik arah menguat dan mulai diposisikan oleh sebagian investor sebagai aset safe-haven alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik.
Update Makroekonomi
Data ekonomi AS menunjukkan CPI Februari di 2,4% YoY (terendah dalam 4+ tahun), yang memberikan sinyal dovish bagi Fed, tetapi revisi GDP dan data ketenagakerjaan Februari yang mengecewakan memicu spekulasi pemotongan suku bunga lebih awal.
Meskipun demikian, pertemuan FOMC pada 18 Maret nanti, kemungkinan mempertahankan suku bunga di 3,50-3,75%, dengan dot plot yang bisa merevisi ekspektasi pemotongan sepanjang 2026.
Ini membuat BTC lebih unggul dari indeks seperti Nasdaq, yang turun karena ketegangan geopolitik, menunjukkan decoupling parsial crypto dari aset tradisional.
Secara keseluruhan, pengaruh negatif dari minyak tinggi dan inflasi potensial (dari konflik Iran) menekan sentimen risiko, tetapi inflow ETF BTC (+$450M dalam 3 hari) dan ketahanan harga menunjukkan bahwa crypto masih dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian makro.
Jika minyak tetap tinggi, tekanan bearish bisa berlanjut, tapi sinyal dovish Fed bisa mendorong rally.
Analisis Bitcoin dan Ethereum
Pasar crypto mengalami pekan yang volatile di akhir Februari 2026, dengan Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah tahunan di sekitar $62.900 sebelum rebound ke kisaran $65.000–$66.000. Total kapitalisasi pasar crypto stabil di sekitar $2,1 triliun, sementara indeks Fear & Greed tetap di level “Extreme Fear” (11).
Meski demikian, di akhir pekan lalu hingga awal minggu ini, pasar crypto menunjukkan relief rally: BTC naik hingga +10%, Ethereum (ETH) +12.45%, dan Solana (SOL) melonjak +13.31%. Pasar crypto terlihat mulai menunjukkan penguatan di tengah turunnya harga emas. Hal ini menunjukkan potensi aliran dana ke safe haven alternatif.

Untuk pertama kalinya pada tahun 2026, BTC menutup candle mingguan dengan pembentukan candle bullish setelah mengalami kenaikan sebesar 10% minggu lalu. Jika berhasil bertahan di atas $72.000, terhadap potensi pembalikan serius untuk Bitcoin.

Secara struktur, Bitcoin dapat mengalami kenaikan hingga level $80.600 yang merupakan support dan resistance kuat sebelumnya.

Ethereum juga menunjukkan momentum positif karena berhasil breakout dari resistance kunci di level $2.154 dan saat ini berpotensi mengetes level support become resistance di $2.638.
Kalender Makroekonomi

Minggu ini dengan beberapa laporan ekonomi penting di AS: PPI di hari Rabu, Interest Rate Decision dan FOMC di hari Kamis (dini hari waktu Indonesia), Initial Jobless Claim, dan Pidato Fed Chair Powell di hari Sabtu, 21 Maret 2026.
Kesimpulan
Pekan lalu crypto menunjukkan resiliensinya dibandingkan pasar aset tradisional dan minggu ini, diprediksi akan terjadi rally bagi crypto. Namun, tetap waspada terutama dengan masih banyaknya ketidakpastian terkait perang Iran yang masih terjadi