Bitcoin masih berada di dalam downtrend-nya. Setelah sempat turun ke $60.000, Bitcoin berhasil bertahan di area support kuat, yaitu puncak harga pada bull run 2021. Meskipun begitu, terhadap tekanan dari situasi ketidakpastian global, kebijakan the Fed, dan penundaan regulasi CLARITY Act. Baca analisis pasar crypto 16 Februari 2026 di bawah!
Ringkasan Artikel
- Gejolak Pasar dan Sentimen Risk-Off: Pasar crypto mengalami volatilitas tinggi dengan total kapitalisasi pasar turun hampir 50% dari puncaknya di Oktober 2025. Penurunan ini didorong oleh likuidasi posisi leverage, meskipun perlahan mulai terlihat adanya sinyal akumulasi dari institusi.
- Bitcoin Menguji Support Kritis: Harga Bitcoin terkoreksi tipis secara mingguan ke level $68.949 dan sedang berada di zona support kuat (titik puncak bull run 2021). Institusi besar tetap memproyeksikan target bullish jangka panjang hingga $150.000–$189.000 di akhir tahun.
- Pelemahan Ethereum dan Rotasi Altcoin: Ethereum tampak lebih rentan, menguji batas support penting di $1.750–$2.000 yang, jika tertembus, bisa memicu penurunan lebih dalam. Di sisi lain, modal investor mulai berotasi ke altcoin dengan narasi spesifik seperti AI, DeFi, dan tokenized gold sebagai aset defensif.
- Tekanan Makroekonomi: Faktor eksternal sangat membebani aset berisiko, termasuk kekhawatiran terhadap sosok Ketua The Fed baru yang hawkish, penundaan regulasi, serta data ekonomi AS yang memperkuat nilai dolar. Hal ini menandai pergeseran pasar dari “era spekulasi” menuju fase reset.
Analisis Pasar Crypto 16 Februari 2026
Pasar kripto mengalami minggu yang penuh gejolak pada periode 9 hingga 15 Februari 2026. Total kapitalisasi pasar kripto turun hampir 50% dari puncaknya pada Oktober 2025, mencerminkan sentimen risk-off yang mendominasi. Bitcoin, sebagai aset utama, mengalami penurunan hampir 2% dalam seminggu terakhir, sementara altcoin menunjukkan pergerakan campuran dengan beberapa kenaikan signifikan di tengah volatilitas tinggi.
Minggu ini dimulai dengan tanda-tanda stabilisasi setelah koreksi awal Februari, di mana Bitcoin sempat rebound dari level terendah $60.000 ke kisaran $68.000-$70.000. Namun, tekanan jual tetap kuat menyebabkan kapitalisasi pasar global turun menjadi sekitar $2,49 triliun pada pertengahan minggu.
Ini menandakan peningkatan aktivitas perdagangan, meskipun sebagian besar didorong oleh likuidasi posisi leverage. Para analis menyebut ini sebagai “deleveraging yang teratur”. Meski demikian, ada sinyal positif dari akumulasi institusional dan on-chain yang menunjukkan potensi rebound jangka pendek.
Analisis Bitcoin (BTC)

Bitcoin berhasil bertahan di area support.
Bitcoin tetap menjadi pusat perhatian di pasar kripto selama minggu 9-15 Februari 2026. Harga BTC dimulai di sekitar $70.127 pada 9 Februari dan berakhir di $68.949 pada 15 Februari, mencatat penurunan sekitar 1,7% secara mingguan. Namun, volatilitas di tengah minggu sangat tinggi: BTC sempat anjlok ke $65.500 pada Kamis sebelum rebound ke atas $68.000 setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Resistensi baru muncul di level sekitar $71.000, dengan sentimen ketakutan mencapai level terendah sejak 2022. Pasar prediksi seperti Polymarket menunjukkan probabilitas 48% BTC akan mencapai $75.000 pada akhir bulan, dengan volume $44,6 juta. Selain itu, institusi seperti Bernstein dan Citi tetap bullish, dengan target harga $150.000-$189.000 akhir tahun, didukung oleh akumulasi on-chain selama konsolidasi.
Secara teknikal, Bitcoin sedang berada di zona support yang terbentuk dari ATH yang terbentuk di puncak bull run tahun 2021. Dengan pembentukan candlestick yang mengindikasikan potensi pantulan, Bitcoin kemungkinan akan mengalami recovery. Namun, sentimen negatif di timeframe yang lebih besar disertai ketidakpastian global membuat situasi pasar masih tidak pasti.
Analisis Ethereum (ETH) dan Altcoin

Ethereum mengetes support penting di tengah tekanan penjualan.
Selain Bitcoin, altcoin menunjukkan dinamika yang lebih beragam selama minggu ini. Ethereum (ETH) tampak lebih lemah, turun 4,6% dari $2.104 pada 9 Februari menjadi $2.007 pada 15 Februari, dengan low mingguan di $1.899.
Ethereum sendiri sudah berada di area support hariannya, yaitu di area antara $1750 dan $2000. Namun, saat ini belum terlihat adanya indikasi pembalikan arah yang signifikan. Ethereum perlu bertahan di atas level $1750. Jika Ethereum jatuh dari level ini, maka terdapat potensi penurunan hingga $1400-an.

Namun, beberapa altcoin trending mencatat kenaikan signifikan, mencerminkan rotasi modal ke tema-tema seperti AI, DeFi, dan meme coin. Tren utama di Februari 2026 termasuk AI + infrastruktur data, pertumbuhan perpetual DEX, dan tokenized gold sebagai aset defensif.
Secara keseluruhan, altcoin menunjukkan potensi rebound lebih cepat daripada BTC, terutama di sektor DeFi dan AI, meski TVL DeFi turun ke $98 miliar.
Update Makroekonomi dan Berita Lainnya
Berita negatif termasuk kerugian besar MicroStrategy, yang memegang 713.502 BTC, dengan kerugian GAAP $17,4 miliar akibat harga BTC turun ke $60.000. Meski begitu, CEO Phong Le dan Michael Saylor mempertahankan strategi “never sell” dan berencana terus membeli BTC setiap kuartal. Di sisi lain, Pemerintah Bhutan menjual lebih dari $22 juta BTC, memicu spekulasi sell-off.
Secara keseluruhan, Bitcoin menunjukkan ketahanan, tetapi tetap rentan terhadap faktor eksternal seperti kebijakan Fed dan geopolitik. Nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Fed yang hawkish memicu kekhawatiran karena ia dianggap kurang agresif dalam kebijakan moneter.
Faktor makroekonomi memainkan peran krusial dalam tekanan jual crypto minggu ini. Data inflasi AS CPI 2,4% lebih rendah dari ekspektasi mendorong rebound BTC ke atas $68.000 dan perubahan prediksi pemotongan suku bunga. Selain itu, demam AI memengaruhi miner kripto yang beralih ke AI/high-performance computing.
Data pekerjaan AS (NFP 50.000 vs ekspektasi 66.000) tidak menunjukkan slowdown signifikan. Justru ini memperkuat dolar AS dan mengurangi daya tarik aset risiko seperti crypto. Selain itu, keterlambatan CLARITY Act di Kongres menambah ketidakpastian regulasi. Secara keseluruhan, ekonomi makro menunjukkan transisi dari distribusi ke reset, dengan “era spekulasi” crypto yang dianggap berakhir.