Beberapa perusahaan memberikan imbal hasil yang menarik kepada para pemegang sahamnya, yaitu pembayaran rutin yang dikenal sebagai dividen. Dividen merupakan bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham, baik dalam bentuk uang tunai maupun tambahan lembar saham. Artikel kali ini akan mengulas tentang dividend investing dalam saham, cara memulai dividend investing, hingga kelebihan serta kekurangannya.
Ringkasan Artikel
💰 Dividend investing adalah strategi investasi yang berpotensi memberi dua keuntungan, yakni kenaikan harga saham dan pendapatan dividen.
👥 Menurut VanEck, dividend growth investing, dividend value investing, dan dividend income investing adalah strategi umum dalam dividend investing.
📉 Dalam dividend investing, ketika keuntungan perusahaan menurun, jumlah dividen yang dibagikan kepada investor juga berpotensi ikut berkurang.
Apa itu Dividend Investing?
Dividend investing adalah sebuah strategi investasi dengan membeli saham perusahaan terbuka yang secara rutin membagikan dividen kepada investornya. Dalam praktiknya, keuntungan dari strategi ini umumnya berasal dari dua sumber. Pertama, kenaikan harga saham seiring waktu atau capital gain. Kedua, pembayaran dividen berkala yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham.
Dividend investing dalam saham menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang ingin memperoleh potensi pertumbuhan nilai aset sekaligus pemasukan pasif. Sebagai ilustrasi, misalnya seseorang memiliki 150 lembar saham dividen dengan harga $100 per saham. Jika saham tersebut menawarkan dividend yield (imbal hasil dividen) tahunan sebesar 2%, maka investor akan memperoleh 2% dari $100, yaitu $2 per saham. Dengan demikian, total dividen yang diterima dari 150 saham dalam satu tahun mencapai $300.
Sejarah Dividend Investing
Dividend investing memiliki sejarah yang panjang dalam dunia pasar modal. Pada masa awal berkembangnya perusahaan publik, banyak emiten membagikan dividen sebagai cara untuk menarik minat investor sekaligus menjaga kestabilan perusahaan. Perusahaan besar seperti Coca-Cola dan General Electric bahkan telah membayar dividen selama lebih dari seratus tahun, yang menunjukkan komitmen kuat mereka kepada para pemegang saham.
Seiring dengan berjalannya waktu, saham yang secara rutin membagikan dividen sering kali mampu mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan saham yang tidak memberikan dividen, terutama jika dividen tersebut terus diinvestasikan kembali. Strategi re-investasi ini dapat mendorong pertumbuhan nilai investasi secara bertahap dari tahun ke tahun melalui efek compounding. Karena itu, bagi investor jangka panjang, dividen menjadi salah satu elemen penting dalam membangun kekayaan secara lebih konsisten.
Efek compounding dalam saham adalah proses ketika keuntungan investasi terus menghasilkan keuntungan baru dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, bukan cuma modal awal saja yang tumbuh, tetapi juga hasil keuntungan yang sebelumnya sudah diperoleh ikut berkembang.
Cara Kerja Dividend Investing
Dividend investing bekerja melalui pembelian saham dari perusahaan yang secara rutin membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya. Umumnya, saham dividen lebih banyak berasal dari perusahaan besar yang memiliki kondisi keuangan stabil. Hal ini karena perusahaan yang lebih kecil biasanya cenderung menggunakan kelebihan dana yang dimiliki untuk memperluas bisnis dan mendorong pertumbuhan, bukan untuk membagikannya kepada investor.
Pembagian dividen ditetapkan oleh dewan direksi perusahaan. Mereka akan mengumumkan besaran dividen yang akan dibayarkan, biasanya dalam nilai tertentu per saham, pada tanggal yang disebut declaration date. Pengumuman ini menjadi penanda resmi bahwa perusahaan akan melakukan pembayaran dividen kepada pemegang saham yang memenuhi syarat.
Setelah jumlah dividen ditetapkan, perusahaan akan menentukan record date dan ex-dividend date. Record date adalah tanggal ketika perusahaan mencatat daftar pemegang saham yang berhak menerima pembayaran dividen berikutnya. Sementara itu, ex-dividend date merupakan batas waktu bagi investor untuk memenuhi syarat mendapatkan dividen, dan umumnya jatuh satu hari bursa sebelum record date.
Apabila investor membeli saham pada atau setelah ex-dividend date, maka ia tidak akan menerima pembayaran dividen yang sedang berjalan. Meski begitu, investor tersebut tetap berpeluang memperoleh dividen pada periode pembagian berikutnya selama masih memegang saham tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada umumnya, dividen dibayarkan setiap kuartal dan secara otomatis masuk ke rekening investasi tempat saham yang memenuhi syarat disimpan. Dengan mekanisme ini, investor dapat memperoleh pemasukan berkala di samping potensi kenaikan harga saham dalam jangka panjang.
Strategi Dividend Investing

Menurut laman VanEck, terdapat beberapa strategi yang sering digunakan dalam dividend investing, yaitu dividend growth investing, dividend value investing, dan dividend income investing. Masing-masing strategi berfokus pada jenis saham pembagi dividen yang berbeda, termasuk saham blue-chip, dividend aristocrats, hingga saham dengan dividend yield tinggi.
Dividend Growth Investing
Dividend growth investing adalah strategi yang menitikberatkan pada perusahaan-perusahaan yang mampu meningkatkan pembayaran dividennya secara konsisten dari waktu ke waktu. Fokus utama strategi ini bukan semata-mata mencari saham dengan dividen paling besar, melainkan perusahaan yang memiliki rekam jejak pertumbuhan dividen yang stabil.
Banyak investor tertarik pada pendekatan ini karena kenaikan dividen sering dipandang sebagai cerminan stabilitas keuangan dan kemampuan perusahaan dalam terus menghasilkan laba. Meski demikian, pemilihan saham berdasarkan riwayat pertumbuhan dividen tetap bersifat historis, sehingga analisis prospek bisnis dan kesehatan keuangan perusahaan ke depan tetap menjadi faktor penting.
Dividend Value Investing
Dividend value investing merupakan strategi yang mencari saham dividen yang dinilai murah atau diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Dalam pendekatan ini, investor tidak hanya mempertimbangkan besaran dividen, tetapi juga valuasi saham secara keseluruhan. Tujuannya adalah memperoleh kombinasi antara pendapatan dividen dan potensi kenaikan harga saham ketika pasar mulai menilai perusahaan tersebut secara lebih wajar.
Dividend Income Investing
Sementara itu, dividend income investing lebih berfokus pada penciptaan arus kas atau pendapatan rutin dari dividen. Strategi ini umumnya menargetkan perusahaan dengan tingkat pembayaran dividen yang relatif tinggi. Karena itu, pendekatan ini sering dipilih oleh investor yang mengutamakan penghasilan berkala dibandingkan pertumbuhan modal yang agresif.
Dividend Yield Tinggi
Strategi dengan dividend yield tinggi biasanya menitikberatkan pada perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah besar. Pendekatan ini sering kali menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan strategi dividend growth, tetapi juga dapat memberikan eksposur yang berbeda. Saham dengan dividend yield tinggi umumnya lebih dekat dengan karakter value stocks, sedangkan strategi dividend growth cenderung memberikan kombinasi eksposur antara saham pertumbuhan dan saham bernilai.
Dalam praktiknya, investor tidak sebaiknya hanya terpaku pada dividend yield yang tinggi atau riwayat pertumbuhan dividen semata. Penilaian yang lebih prospektif terhadap kesehatan keuangan perusahaan, kemampuan menghasilkan arus kas, dan keberlanjutan model bisnis menjadi aspek penting untuk menilai apakah pembayaran dividen tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
Cara Memulai Dividend Investing

Untuk memulai dividend investing sebenarnya cukup sederhana, tetapi tetap membutuhkan strategi yang tepat agar sesuai dengan tujuan keuangan. Berikut beberapa cara dalam memulai dividend investing:
Tentukan tujuan investasi
Sebelum membeli saham dengan dividen, tentukan dulu tujuanmu. Apakah ingin mendapatkan penghasilan rutin, pertumbuhan aset jangka panjang, atau kombinasi keduanya. Tujuan ini akan membantu kamu memilih jenis saham dividen yang paling sesuai.
Cari perusahaan yang rutin membagikan dividen
Setelah tujuan jelas, mulailah mencari perusahaan yang konsisten membayar dividen. Fokus pada perusahaan yang sudah mapan dan memiliki riwayat pembagian dividen yang stabil. Sektor seperti utilitas, barang konsumsi, kesehatan, dan jasa keuangan sering menjadi pilihan karena umumnya memiliki pendapatan yang relatif stabil.
Perhatikan metrik dividennya
Untuk menilai kualitas dan keberlanjutan dividen suatu perusahaan, ada beberapa metrik penting yang perlu diperhatikan, yaitu:
Dividend yield
Dividend yield adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar dividen yang dibagikan perusahaan dibandingkan dengan harga sahamnya. Meski dividend yield yang tinggi terlihat menarik, kamu tetap perlu berhati-hati karena yield yang terlalu tinggi bisa menjadi tanda adanya masalah pada kondisi keuangan perusahaan.
Dividend payout ratio
Dividend payout ratio adalah metrik yang menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Jika payout ratio melebihi 100%, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa pembagian dividen tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang karena perusahaan membayar lebih besar daripada laba yang dihasilkan.
Dividend growth rate
Indikator ini menggambarkan seberapa besar pertumbuhan pembayaran dividen perusahaan dari waktu ke waktu. Perusahaan yang memiliki riwayat kenaikan dividen secara konsisten umumnya dinilai lebih stabil dan menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
Debt-to-equity ratio
Rasio ini digunakan untuk melihat tingkat leverage atau ketergantungan perusahaan terhadap utang dibandingkan modalnya. Perusahaan dengan tingkat utang yang lebih rendah biasanya memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mempertahankan bahkan meningkatkan pembayaran dividen, termasuk saat kondisi ekonomi sedang kurang stabil.
Diversifikasi portofolio
Jangan menaruh seluruh dana hanya pada satu atau dua saham. Sebaiknya sebarkan investasi ke beberapa sektor dan industri agar risiko lebih terjaga. Diversifikasi dapat membantu menjaga kestabilan pendapatan dividen sekaligus mengurangi dampak jika ada satu perusahaan yang berkinerja buruk.
Pilih saham individual atau fund dividen
Kamu bisa berinvestasi langsung pada saham dividen tertentu atau melalui produk seperti ETF dan reksa dana dividen. Membeli saham individual memberi kontrol lebih besar, tetapi membutuhkan riset lebih mendalam. Sementara itu, fund dividen cocok bagi investor yang ingin cara lebih praktis dengan diversifikasi yang sudah terbentuk.
Pertimbangkan re-investasi dividen
Salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan hasil investasi adalah menginvestasikan kembali dividen yang diterima. Dengan cara ini, kamu dapat membeli saham tambahan, sehingga potensi dividen di masa depan juga ikut meningkat. Dalam jangka panjang, strategi ini dapat memperkuat efek compounding.
Pantau portofolio secara berkala
Setelah berinvestasi, tetap lakukan evaluasi secara berkala. Perhatikan kinerja saham, kondisi perusahaan, dan apakah investasi tersebut masih sejalan dengan tujuan keuangan kamu. Bila perlu, lakukan penyesuaian pada komposisi portofolio.
Tetap sabar dan konsisten
Investasi saham dividen adalah strategi jangka panjang. Dibutuhkan kesabaran, disiplin, dan konsistensi untuk mendapatkan hasil optimal. Dengan pendekatan yang tepat, saham dividen dapat membantu membangun pendapatan pasif sekaligus menumbuhkan kekayaan secara bertahap.
Cara Memilih Saham Dividend
Dalam memilih saham dividend, investor tidak sebaiknya hanya terpaku pada besarnya dividen yang ditawarkan. Meskipun banyak perusahaan membagikan dividen secara rutin sebagai bentuk pembagian laba kepada pemegang saham, pembayaran dividen tetap tidak bersifat wajib dan tidak selalu terjamin. Berikut hal yang perlu dilakukan dalam memilih saham dividend:
- Menilai kesehatan keuangan perusahaan. Perusahaan dengan kondisi keuangan yang solid umumnya memiliki peluang lebih besar untuk membagikan dividen secara konsisten. Sebaliknya, jika profitabilitas perusahaan sedang tertekan, perusahaan bisa saja mengurangi dividen atau bahkan menghentikannya, yang juga dapat berdampak pada harga saham.
- Pahami peluang dan tantangan yang dihadapi perusahaan. Hal ini penting untuk menilai apakah bisnis perusahaan masih memiliki ruang bertumbuh dan mampu mempertahankan kinerjanya dalam jangka panjang. Tidak kalah penting, perhatikan juga prospek sektor industrinya, termasuk faktor-faktor yang dapat mendorong pertumbuhan maupun risiko yang berpotensi menghambatnya.
- Melihat prospek jangka panjang perusahaan secara menyeluruh. Investor dapat memanfaatkan berbagai metrik keuangan untuk membantu analisis, atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan agar pilihan investasi lebih sesuai dengan tujuan keuangan jangka panjang.
Lalu, apa saham dividen terbaik untuk pemula? Secara umum, saham dividen terbaik untuk pemula adalah saham dari perusahaan besar, stabil, dan punya riwayat membagikan dividen secara konsisten. Biasanya, saham seperti ini berasal dari sektor yang bisnisnya relatif kuat dan tidak terlalu fluktuatif.
Kelebihan Dividend Investing
Dividend investing menawarkan sejumlah manfaat yang membuatnya menarik bagi investor dengan tujuan pendapatan pasif maupun pertumbuhan aset jangka panjang. Berikut adalah beberapa kelebihan dari dividend investing:
- Pertama, dividen dapat menjadi sumber pendapatan tanpa harus menjual saham yang dimiliki. Hal ini bermanfaat bagi pensiunan atau investor yang ingin mengurangi ketergantungan pada sumber penghasilan lain. Pendapatan dari dividen dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin, diinvestasikan kembali ke saham, atau disimpan untuk kebutuhan di masa depan.
- Kedua, saham yang membagikan dividen umumnya dianggap lebih stabil dalam portofolio. Perusahaan pembagi dividen biasanya memiliki fundamental yang kuat, arus kas yang sehat, dan kondisi keuangan yang relatif solid. Karena itu, saham jenis ini sering kali lebih tahan terhadap gejolak pasar, terutama saat terjadi perlambatan ekonomi atau tekanan di pasar keuangan.
- Ketiga, dividend investing juga berperan penting dalam akumulasi kekayaan jangka panjang. Ketika dividen terus diinvestasikan kembali, investor dapat memanfaatkan efek compounding, yaitu pertumbuhan nilai investasi yang terjadi secara bertahap namun semakin besar dari waktu ke waktu. Dalam jangka panjang, proses ini dapat menghasilkan peningkatan nilai portofolio yang signifikan.
- Keempat, dividen juga dapat memberikan manfaat dari sisi efisiensi pajak di banyak negara. Pada beberapa yurisdiksi, pendapatan dividen dikenakan tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan pendapatan biasa. Kondisi ini menjadikan dividend investing sebagai strategi yang berpotensi lebih efisien secara perpajakan, tergantung pada aturan yang berlaku di masing-masing negara.
- Kelima, saham dividen dapat berfungsi sebagai pelindung terhadap inflasi. Perusahaan yang mampu meningkatkan pembayaran dividennya secara konsisten berpotensi membantu investor menjaga daya beli dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, pertumbuhan dividen dapat menjadi salah satu cara untuk mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa di masa depan.
Dengan berfokus pada saham dividen, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang dan tangguh dalam menghadapi berbagai kondisi pasar. Baik untuk memperoleh pendapatan pasif maupun mengejar pertumbuhan aset jangka panjang, dividend investing merupakan strategi yang menarik untuk dipertimbangkan bagi sebagian investor.
Kekurangan Dividend Investing di Tokenized Asset
Dalam konteks tokenized asset, penting untuk dipahami bahwa investor umumnya tidak memperoleh hak dividen seperti pemegang saham secara langsung. Pada tokenized stocks, dividen biasanya tidak dibayarkan dalam bentuk tunai, melainkan otomatis direinvestasikan ke token yang sama.
Selain itu, tokenized stocks pada umumnya juga tidak disertai hak pemegang saham seperti hak suara, sehingga eksposur yang dimiliki investor lebih merepresentasikan manfaat ekonomi dari aset acuan, bukan kepemilikan saham secara langsung.
Secara umum, saham dividen tidak selalu menawarkan kenaikan nilai yang sangat tinggi karena perusahaan dengan pertumbuhan agresif biasanya lebih memilih mengalokasikan kembali labanya untuk ekspansi bisnis daripada membagikan dividen dalam jumlah besar kepada pemegang saham.
Kekurangan berikutnya adalah dividen bukanlah hal yang pasti atau dijamin. Seperti halnya instrumen investasi lain, pembayaran dividen sangat bergantung pada kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan biasanya hanya membagikan dividen ketika memiliki laba yang cukup. Jika keuntungan perusahaan menurun, maka jumlah dividen yang dibayarkan kepada investor juga berpotensi turun, bahkan bisa saja dihentikan untuk sementara waktu.
Selain itu, investor juga perlu mewaspadai apa yang dikenal sebagai dividend yield trap. Kondisi ini terjadi ketika suatu saham terlihat sangat menarik hanya karena memiliki dividend yield yang tinggi, padahal secara fundamental belum tentu sehat. Dividend yield yang terlalu tinggi sering kali menjadi sinyal bahwa pembayaran dividen tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang dan berisiko mengalami penurunan. Investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada besarnya yield, tetapi juga perlu menilai kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Risiko Dividend Investing
Dividend investing juga memiliki risiko yang perlu dipahami investor. Salah satunya adalah risiko inflasi. Jika dividen yang dibagikan perusahaan cenderung tetap atau pertumbuhannya terlalu lambat, maka nilai riil pendapatan yang diterima investor dapat menurun seiring waktu. Artinya, meskipun investor tetap menerima dividen, daya beli dari pendapatan tersebut bisa tergerus oleh kenaikan harga barang dan jasa.
Selain itu, saham dividen juga dipengaruhi oleh sentimen pasar. Dalam kondisi suku bunga rendah, saham dividen biasanya lebih menarik karena dinilai mampu memberikan pendapatan yang kompetitif. Namun, ketika suku bunga naik atau kondisi ekonomi berubah, minat investor terhadap saham dividen dapat berkurang, sehingga harga saham berpotensi ikut turun.
Karena itu, risiko dividend investing tidak hanya berasal dari kinerja perusahaan, tetapi juga dari faktor eksternal seperti inflasi, perubahan suku bunga, dan dinamika pasar secara keseluruhan.
Bedanya Dividend Investing dan Growth Investing
Berikut beberapa perbedaan antara dividend investing dan growth investing:
| Aspek | Dividend Investing | Growth Investing |
|---|---|---|
| Fokus utama | Mendapatkan pendapatan rutin dari dividen serta potensi kenaikan harga saham | Mengejar pertumbuhan nilai saham dalam jangka panjang |
| Sumber keuntungan | Dividen dan capital gain | Capital gain saat saham dijual |
| Kebijakan laba perusahaan | Sebagian laba dibagikan kepada pemegang saham | Laba biasanya diinvestasikan kembali untuk ekspansi bisnis |
| Karakter perusahaan | Umumnya perusahaan besar, stabil, dan memiliki arus kas sehat | Umumnya perusahaan yang sedang berkembang dan agresif berekspansi |
| Profil risiko | Cenderung lebih stabil dan defensif | Cenderung lebih fluktuatif karena bergantung pada prospek pertumbuhan |
| Arus kas bagi investor | Ada pemasukan rutin dari dividen | Tidak ada pemasukan rutin selama saham belum dijual |
| Tujuan investor | Cocok untuk investor yang mencari pendapatan pasif | Cocok untuk investor yang mengejar pertumbuhan aset |
| Horizon investasi | Biasanya lebih cocok untuk jangka pendek hingga menengah | Biasanya lebih cocok untuk jangka panjang |
| Likuiditas yang dibutuhkan | Lebih sesuai untuk investor yang membutuhkan arus kas lebih cepat | Lebih sesuai untuk investor yang tidak membutuhkan likuiditas dalam waktu dekat |
Beli Saham Dividen di Pintu
Seperti yang telah dijelaskan, saham dividen umumnya berasal dari perusahaan besar, stabil, dan memiliki riwayat pembagian dividen yang konsisten. Beberapa contoh saham dividen Amerika yang populer di kalangan investor antara lain Coca-Cola (KOON), McDonald’s (MCDON), dan Johnson & Johnson (JNJ).
Menariknya, kini kamu bisa berinvestasi pada saham dividen populer Amerika seperti Coca-Cola dan McDonald’s, serta aset lainnya, melalui Market Tokenized Stocks di aplikasi Pintu. Karena menggunakan sistem tokenisasi, aset-aset ini dapat dibeli secara fraksional, sehingga kamu tidak perlu membeli 1 lembar saham secara utuh.
Berikut cara mudah beli saham dividen di aplikasi Pintu:
- Masuk ke homepage Pintu.
- Masuk ke laman Market – Tokenized Stocks.
- Cari dan pilih aset crypto yang ingin kamu tradingkan.
- Masukkan nominal yang ingin kamu beli, dan ikuti terus langkah-langkah selanjutnya.
Kesimpulan
Dividend investing adalah strategi investasi dengan membeli saham perusahaan yang rutin membagikan dividen, sehingga investor berpeluang memperoleh pendapatan berkala sekaligus potensi kenaikan nilai aset. Strategi ini umumnya cocok bagi investor yang mencari kestabilan, arus kas lebih konsisten, dan pertumbuhan portofolio jangka panjang melalui efek compounding.
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, dividend investing tetap perlu dijalankan dengan selektif. Investor sebaiknya tidak hanya melihat besarnya dividen, tetapi juga memperhatikan kesehatan keuangan perusahaan, konsistensi pembagian dividen, serta prospek bisnisnya ke depan. Dengan pemahaman dan strategi yang tepat, dividend investing dapat menjadi salah satu cara membangun portofolio secara lebih stabil dan terukur.
Referensi:
- Adam Hayes. Dividends: What They Are, How They Work, and Important Dates. Diakses pada 20 Maret 2026
- Aspen. Dividend Versus Growth Investments. Diakses pada 20 Maret 2026
- Equifax. What is Dividend Investing and What are Qualified Dividends? Diakses pada 20 Maret 2026
- FNB. Dividend investing. Diakses pada 20 Maret 2026
- Lisa-Marie Voneshen. What is dividend investing and how do I start? Diakses pada 20 Maret 2026
- Saratoga. Is Dividend Investing Worth It? The Complete Guide. Diakses pada 20 Maret 2026
- TD. Understanding Dividend stocks and how to invest in them. Diakses pada 20 Maret 2026
- QTrade. How to get started at dividend investing. Diakses pada 20 Maret 2026
- VanEck. How to Develop a Dividend Investing Strategy: A Comprehensive Guide. Diakses pada 20 Maret 2026