Kategori
Pemula

Apa itu GENIUS Act? Cara Kerja dan Pengaruhnya ke Pasar Crypto

Reading Time: 9 minutes

Pada tahun 2025, Amerika Serikat resmi mengesahkan GENIUS Act, sebuah undang-undang terobosan yang menjadi regulasi federal pertama untuk mengatur stablecoin—aset digital yang nilainya dipatok pada mata uang fiat dan digunakan untuk pembayaran. Dengan hasil pemungutan suara 308-122 di DPR dan 68-30 di Senat, undang-undang GENIUS ini menghadirkan kejelasan hukum yang selama ini dinanti oleh pelaku industri crypto.

Untuk pertama kalinya, aturan federal menetapkan siapa yang boleh menerbitkan stablecoin, bagaimana aset tersebut harus dijamin, serta regulator mana yang bertanggung jawab mengawasinya. Lebih dari sekadar regulasi, GENIUS Act memberi sinyal kuat bahwa stablecoin kini diakui sebagai produk keuangan sah, sekaligus membuka jalan bagi inovasi yang lebih aman dan terstruktur dalam ekosistem aset digital.

Ringkasan Artikel:

🗽 GENIUS Act merupakan regulasi pertama di Amerika Serikat yang mengatur stablecoin yang didukung oleh dolar AS.

🗓️ GENIUS Act akan mulai berlaku pada 18 Januari 2027, atau 120 hari setelah regulator AS menerbitkan peraturan final.

🔎 Berdasarkan GENIUS Act, jika penerbitan stablecoin melebihi $10 miliar, maka mereka akan diawasi langsung oleh regulator federal.

🇺🇸 Pembuat kebijakan di AS tengah memperdebatkan rencana pembatasan imbal hasil (yield) stablecoin.

Apa itu GENIUS Act?

GENIUS Act (Guiding and Establishing National Innovation for US Stablecoin) atau undang-undang GENIUS adalah pedoman regulasi pertama di Amerika Serikat yang secara khusus mengatur stablecoin. Resmi disahkan pada 18 Juli 2025, momen ini telah lama dinantikan dan dianggap sebagai tonggak penting yang diharapkan bisa menjadi langkah awal menuju regulasi yang lebih luas untuk seluruh industri crypto.

Secara garis besar, GENIUS Act berfungsi untuk menetapkan aturan pengawasan yang menyeluruh bagi stablecoin dan para penyedianya. Tujuan utama dari regulasi ini adalah memberikan aturan yang jelas terkait penerbitan stablecoin dan cadangan asetnya, sekaligus melindungi konsumen dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Lalu, kapan GENIUS Act mulai berlaku di Amerika?

Berdasarkan laporan, GENIUS Act akan mulai berlaku pada 18 Januari 2027, atau 120 hari setelah regulator menerbitkan peraturan final, tergantung mana yang lebih dulu terjadi. Meski belum resmi diberlakukan, banyak perusahaan diperkirakan sudah mulai menyesuaikan model bisnis dan layanan mereka agar siap saat regulasi ini benar-benar mulai diterapkan.

Apa itu Stablecoin?

pengertian stablecoin
Sumber: Brookings Institution

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai GENIUS Act, kita akan membahas sedikit mengenai stablecoin serta pertumbuhannya dari tahun ke tahun.

Pengertian Stablecoin

Stablecoin adalah jenis aset digital yang dirancang untuk memiliki nilai yang stabil, biasanya dengan cara dipatok (pegged) pada aset cadangan seperti mata uang fiat, misalnya dolar AS. Tujuannya adalah agar stablecoin bisa digunakan sebagai alat tukar yang cepat, murah, dan aman di seluruh dunia melalui teknologi blockchain.

Lalu, apa itu payment stablecoin menurut GENIUS Act? Berdasarkan GENIUS Act, payment stablecoin didefinisikan sebagai aset digital yang dirancang khusus untuk keperluan pembayaran, dan diterbitkan oleh entitas yang menjamin nilai aset tersebut akan tetap stabil terhadap sejumlah nilai mata uang tertentu.

Mengapa Stablecoin Menarik?

Beberapa alasan utama mengapa stablecoin diminati, baik dalam sistem keuangan tradisional maupun di dunia crypto:

  • Crypto bisa sangat fluktuatif. Banyak aset crypto memiliki harga yang naik-turun drastis, sehingga penggunaannya sebagai alat pembayaran bisa berisiko bagi penjual maupun pembeli.
  • Konversi aset. Stablecoin memiliki keunggulan sebagai pilihan aset bernilai stabil untuk melakukan konversi aset crypto.
  • Transfer uang bisa lambat dan mahal. Pengiriman uang lintas negara seringkali memakan waktu, biayanya tinggi, dan prosesnya kurang transparan.
  • Ketidakpercayaan terhadap mata uang lokal. Di negara-negara dengan inflasi tinggi dan mata uang yang tidak stabil, masyarakat sering kesulitan mengakses mata uang yang lebih stabil seperti dolar AS. Stablecoin bisa menjadi alternatif.

Di sinilah peran stablecoin menjadi penting, yakni sebagai pengganti uang tunai digital yang nilainya tetap dan mudah diakses. Selain untuk pembayaran global, stablecoin juga banyak digunakan dalam kontrak pintar (smart contracts) dan sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) karena bisa diprogram untuk berbagai keperluan.

Pertumbuhan Stablecoin

Sumber: DeFiLlama

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar stablecoin menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Grafik dari DeFiLlama memperlihatkan bahwa sejak tahun 2020, kapitalisasi pasar stablecoin mulai meningkat tajam, menandai dimulainya adopsi besar-besaran terhadap aset digital ini.

Puncak awal terjadi pada tahun 2022, ketika market cap mencapai lebih dari $180 miliar, namun kemudian mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2022 hingga pertengahan 2023. Meski begitu, pasar stablecoin bangkit kembali mulai akhir 2023 dan terus menunjukkan tren naik yang konsisten.

Kenaikan yang paling signifikan terjadi sepanjang 2024 hingga pertengahan 2025, di mana kapitalisasi pasar stablecoin melonjak pesat hingga menembus angka $300 miliar pada awal 2026.

Bagaimana Cara Kerja GENIUS Act?

GENIUS Act mencakup aturan yang sangat detail, namun berikut ini adalah beberapa ketentuan utama yang paling penting:

Lisensi dan Pengawasan Penerbit Stablecoin

Perusahaan yang ingin menerbitkan stablecoin wajib mendaftar ke otoritas federal.

  • Jika penerbitan stablecoin melebihi $10 miliar, maka mereka akan diawasi langsung oleh regulator federal.
  • Penerbit dengan skala lebih kecil dapat memilih untuk diatur oleh regulator di tingkat negara bagian.

Standar Jaminan dan Penukaran

Stablecoin harus didukung oleh aset cadangan 100% dalam bentuk kas, surat utang negara AS (US Treasury), atau aset likuid berkualitas tinggi lainnya.

  • Artinya, jika seseorang memegang stablecoin senilai $100, penerbit wajib menyimpan aset nyata senilai $100 sebagai jaminan.

Audit dan Transparansi

Penerbit stablecoin diwajibkan untuk:

  • Melakukan audit cadangan secara rutin;
  • Menyampaikan laporan dan pengungkapan informasi ke publik secara berkala.

Perlindungan Konsumen

Jika penerbit stablecoin mengalami kebangkrutan, pemegang stablecoin akan diprioritaskan untuk mendapatkan kembali dana mereka sebelum kreditur lain, termasuk bank atau pemegang obligasi.

  • Ketentuan ini mengesampingkan aturan kepailitan konvensional dan menggunakan pendekatan khusus demi perlindungan pengguna.

Bagaimana GENIUS Act Melindungi Konsumen?

Inti dari GENIUS Act adalah perlindungan konsumen. Seperti yang telah disebutkan di atas, stablecoin untuk pembayaran saat ini sudah beredar di AS dengan pengawasan regulasi yang minim. Oleh karena itu, GENIUS Act menjadi regulasi federal pertama yang memberikan kerangka aturan untuk stablecoin pembayaran, termasuk persyaratan cadangan yang ketat dan transparansi atas aset yang mendukung nilai stablecoin tersebut.

Berdasarkan dokumennya, GENIUS Act menetapkan perlindungan federal untuk pemegang stablecoin dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap pasar stablecoin pembayaran yang diizinkan, dengan mewajibkan:

  • Cadangan 100% dalam bentuk dolar AS, surat utang negara jangka pendek, atau aset likuid sejenis sebagaimana ditentukan oleh regulator utama.
  • Pengungkapan publik bulanan tentang komposisi cadangan.
  • Laporan keuangan tahunan yang diaudit untuk penerbit dengan kapitalisasi pasar lebih dari $50 miliar.

GENIUS Act menetapkan standar ketat dalam pemasaran stablecoin pembayaran:

  • Melarang pernyataan bahwa stablecoin didukung penuh oleh pemerintah AS, dijamin oleh pemerintah, atau diasuransikan oleh FDIC, sehingga penerbit tidak boleh menyesatkan konsumen mengenai dukungan atau perlindungan dari pemerintah terhadap stablecoin.
  • Memastikan stablecoin tidak boleh dipasarkan sedemikian rupa sehingga orang awam mengira stablecoin tersebut adalah alat pembayaran resmi yang sah atau dijamin pemerintah.
  • Menyatakan bahwa aset digital tidak boleh dipasarkan sebagai stablecoin pembayaran kecuali jika sudah sepenuhnya memenuhi ketentuan dalam GENIUS Act.

GENIUS Act mencegah risiko rush (penarikan besar-besaran) yang mengganggu stabilitas dengan menetapkan kerangka regulasi yang mencakup:

  • Persyaratan diversifikasi aset cadangan.
  • Standar manajemen risiko terhadap suku bunga.
  • Persyaratan modal, likuiditas, dan manajemen risiko lainnya.
  • Melarang penggunaan aset cadangan yang berisiko tinggi seperti utang korporasi atau saham.

Dalam kasus kebangkrutan, GENIUS Act mengatur bahwa:

  • Klaim pemegang stablecoin yang sah akan diprioritaskan di atas kreditur lain jika penerbit stablecoin bangkrut.
  • Proses hukum untuk peninjauan pengadilan dan distribusi aset cadangan kepada pemegang stablecoin akan dipercepat.

GENIUS Act Hadir, Bagimana Dampaknya ke Investor Crypto?

Jika GENIUS Act benar-benar mendorong adopsi stablecoin secara luas, maka hal ini bisa meningkatkan penggunaan jaringan blockchain yang digunakan untuk membangun stablecoin tersebut. Peningkatan aktivitas ini juga dapat memperkuat kredibilitas blockchain tersebut sebagai jaringan yang dipercaya dan berpotensi memberikan eksposur lebih kepada ekosistem jaringan.

Namun, hal ini tidak bisa dijadikan patokan untuk mengambil keputusan investasi karena banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Investor juga perlu menyadari bahwa kegagalan stablecoin, seperti kebangkrutan atau kehilangan patokan nilai (depegging), bisa berdampak negatif pada harga cryptocurrency terkait.

Regulasi seperti GENIUS memang dapat mengurangi risiko penipuan dan penyalahgunaan, tetapi tidak bisa sepenuhnya melindungi portofolio dari sentimen pasar yang negatif.

Secara umum, disahkannya GENIUS Act dianggap sebagai kemajuan penting bagi industri kripto. Ini adalah undang-undang kripto pertama yang berhasil lolos di tingkat federal, dan bisa menjadi sinyal bahwa lembaga legislatif saat ini lebih terbuka terhadap regulasi yang mendukung perkembangan aset digital di masa depan.

Namun, dalam jangka pendek, penting untuk diingat bahwa aset kripto masih sangat volatil dan belum ada jaminan seberapa efektif perlindungan dari GENIUS Act ini dalam praktiknya.

Bagaimana GENIUS Act Memengaruhi USDT dan USDC?

Sama-sama dipatok terhadap dolar AS dengan rasio 1:1, dua stablecoin terbesar saat ini, USDT (Tether) dan USDC (Circle), tercatat menguasai hampir 90% pangsa pasar stablecoin global. Lalu, bagaimana dampak GENIUS Act terhadap USDT dan USDC?

Dampak terhadap USDT (Tether)

USDT adalah stablecoin terbesar di dunia dengan suplai mencapai 187 miliar dan mencatat volume transaksi $13,3 triliun pada tahun 2025. Namun, USDT dinilai masih memiliki kekurangan dalam kepatuhan, terutama terkait transparansi cadangan yang belum konsisten.

Mengutip laporan The Motley Fool (16/12/25), Tether, penerbit stablecoin USDT, telah lama menjadi sorotan terkait isu transparansi sejak tahun 2017. Investigasi dari Kejaksaan Agung New York mengungkap bahwa pada tahun 2017 dan 2018, Tether tidak sepenuhnya menjaga cadangan 1 banding 1 untuk setiap USDT yang beredar. Hal ini membuatnya kurang sesuai dengan standar GENIUS Act, sehingga kemungkinan akan dibatasi penggunaannya di wilayah AS, meski secara global dominasinya kemungkinan tetap kuat.

Dampak terhadap USDC (Circle)

USDC sepenuhnya sesuai dengan persyaratan GENIUS Act, karena didukung 100% oleh dolar AS dan surat utang negara AS. Lebih lanjut, Circle secara rutin menerbitkan laporan verifikasi bulanan yang diaudit oleh Deloitte & Touche LLP, untuk memastikan bahwa cadangan aset mereka setara atau melebihi jumlah USDC yang beredar.

Cadangan tersebut terdiri dari sekitar 88,8% dalam bentuk dana pasar uang (money market funds) dan 11,2% dalam bentuk tunai yang disimpan di lembaga keuangan yang telah diatur secara resmi. Dengan tingkat transparansi yang tinggi, USDC semakin menarik bagi institusi keuangan dan dianggap siap bersaing di pasar AS.

Saat ini, USDC memiliki kapitalisasi pasar $75.04 miliar dan volume perdagangan harian $20.82 miliar dan diprediksi akan terus tumbuh seiring meningkatnya adopsi dari pelaku pasar yang membutuhkan kepastian regulasi.

Apa Perbedaan GENIUS Act dan STABLE Act?

Dalam waktu dekat, adopsi regulasi stablecoin di Amerika Serikat diperkirakan akan segera terwujud. Hal ini didorong oleh langkah pemerintahan Trump yang menetapkan kepemimpinan AS dalam sektor aset digital sebagai prioritas utama. Saat ini, baik Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun Senat AS sedang memproses dua rancangan undang-undang (RUU) yang serupa:

  • STABLE Act (Stablecoin Transparency and Accountability for a Better Ledger Economy Act of 2025), berasal dari DPR.
  • GENIUS Act (Guiding and Establishing National Innovation for U.S. Stablecoins Act of 2025), berasal dari Senat.

Kedua RUU ini lahir dari dukungan bipartisan (lintas partai) dan sama-sama bertujuan menciptakan kerangka regulasi federal baru khusus untuk stablecoin. Meskipun tujuannya serupa, isi dan pendekatannya memiliki perbedaan dalam beberapa aspek penting.

Perbandingan GENIUS Act vs STABLE Act

AspekSTABLE Act (DPR)GENIUS Act (Senat)
Tujuan UtamaTransparansi dan akuntabilitas stablecoinInovasi dan kejelasan regulasi nasional untuk stablecoin
Penerbit StablecoinHarus dari entitas tertentu: anak perusahaan bank, disetujui OCC, atau diatur negara bagianSama, tetapi dengan mekanisme pengawasan federal lebih jelas
Cadangan Aset (Reserve)Harus 100% didukung oleh dolar AS atau aset likuid serupaSama; tambahan audit dan pengungkapan bulanan diwajibkan
Pengawasan RegulatorLebih menekankan pengawasan OCCKombinasi pengawasan federal dan negara bagian, dengan ambang $10 miliar
Standar AML & BSADitekankan secara eksplisitDiatur, namun fokus lebih pada struktur penerbitan dan perlindungan konsumen
Perlindungan KonsumenAda, tetapi fokus pada transparansiLebih kuat, termasuk prioritas klaim pemegang stablecoin saat kebangkrutan
Pendekatan terhadap Negara BagianMemberi peran negara bagian yang signifikanNegara bagian harus menerapkan aturan yang “substansial serupa” dengan federal
Tujuan Jangka PanjangMeningkatkan kepercayaan pasar dan stabilitas sistemMendukung inovasi, efisiensi, dan pertumbuhan ekosistem stablecoin

Apakah GENIUS Act Lebih Menguntungkan Bank daripada Pengguna?

Dalam laporan Coingape (10/1/26), pembuat kebijakan di AS tengah memperdebatkan rencana pembatasan imbal hasil (yield) stablecoin, seiring meningkatnya persaingan antara sektor perbankan dan industri crypto. Isu ini mencerminkan perebutan pengaruh atas kontrol imbal hasil, perlindungan hak konsumen, dan arah regulasi stablecoin di AS.

Menurut jurnalis Sander Lutz, staf Komite Perbankan Senat telah memberi pengarahan kepada pelaku industri crypto terkait sejumlah opsi kebijakan, seperti:

  • Imbal hasil hanya boleh diberikan untuk transaksi, bukan untuk simpanan.
  • Produk imbal hasil hanya boleh ditawarkan oleh lembaga keuangan yang diatur resmi.

Wacana ini menimbulkan kekhawatiran di industri crypto, mengingat imbal hasil stablecoin saat ini populer di DeFi, perdagangan, dan tabungan crypto, seringkali dengan return lebih tinggi dibanding deposito bank. Perdebatan ini menandai adanya perubahan sikap regulator dibanding diskusi sebelumnya.

Tanggapan Para Tokoh di Dunia Crypto

John E. Deaton, seorang pengacara yang dikenal di komunitas crypto, menyebut pembatasan imbal hasil ini sebagai bentuk kompetisi langsung antara bank dan industri crypto. Ia menilai pembatasan yield akan mengurangi pilihan konsumen dan membatasi inovasi, karena stablecoin justru menawarkan alternatif pembayaran dan pengembalian lebih cepat dibanding sistem keuangan tradisional.

Selain itu, investor dan pengamat kebijakan, Alex Tapscott, mendukung pengesahan GENIUS Act untuk menjaga daya saing ekonomi AS, namun memperingatkan bahwa eksekusi kebijakan yang keliru bisa merusak regulasi stablecoin. Ia menekankan pentingnya fokus pada manfaat untuk pengguna, bukan hanya pada perlindungan profit bank.

Lalu, bagaimana dampak GENIUS Act terhadap Exchange Crypto Indonesia?

Jika GENIUS Act berhasil mendorong adopsi stablecoin di AS, khususnya stablecoin yang dipatok pada dolar AS, maka penggunaan stablecoin berpeluang tumbuh pesat di seluruh dunia. Bagi exchange crypto di Indonesia, stablecoin seperti USDC cenderung dipandang lebih aman dari sisi regulasi karena berada dalam kerangka hukum AS dan mengikuti standar kepatuhan yang jelas.

Kesimpulan

GENIUS Act adalah langkah besar Amerika Serikat dalam menciptakan regulasi federal pertama untuk stablecoin, dengan tujuan memperjelas aturan penerbitan, cadangan aset, dan perlindungan konsumen. Meskipun diharapkan mendorong adopsi global dan inovasi, muncul kekhawatiran bahwa pembatasan imbal hasil (yield) yang didorong oleh sektor perbankan dapat menguntungkan institusi finansial dan mengurangi manfaat bagi pengguna.

Perdebatan mengenai pembatasan imbal hasil ini mencerminkan tarik-menarik antara kontrol pasar, kepentingan konsumen, dan masa depan kebijakan stablecoin. Keberhasilan implementasi GENIUS Act akan sangat bergantung pada detail pelaksanaannya dan keberpihakannya terhadap pengguna akhir.

FAQ

Kapan GENIUS Act mulai berlaku dan siapa yang harus mematuhinya?

GENIUS Act akan mulai berlaku pada 18 Januari 2027, atau 120 hari setelah regulator AS menerbitkan peraturan final. Undang-undang ini wajib dipatuhi oleh semua penerbit stablecoin yang ingin menawarkan stablecoin pembayaran kepada publik di Amerika Serikat, termasuk entitas asing yang beroperasi di pasar AS.

Bagaimana GENIUS Act mempengaruhi stablecoin populer seperti USDT (Tether) dan USDC (Circle)?

USDC kemungkinan diuntungkan karena sudah transparan dan sesuai dengan standar GENIUS Act. Sementara itu, USDT bisa menghadapi tantangan karena kurang transparan soal cadangan aset. Jika tidak menyesuaikan diri, peredarannya di pasar AS bisa dibatasi.

Apa perbedaan antara GENIUS Act dengan regulasi stablecoin di negara lain (misalnya MiCA di Eropa)?

Singkatnya, MiCA mencakup spektrum aset digital yang lebih luas, sementara GENIUS Act lebih fokus dan mendalam pada stablecoin pembayaran, dengan pengawasan dan mekanisme perlindungan konsumen yang ketat di konteks AS.

Referensi:

Oleh Deswita Zela Syaumi

Deswita adalah seorang Content Writer yang memiliki ketertarikan mendalam di bidang Web3 dan Blockchain. Dalam 1 tahun, Deswita telah memproduksi ratusan artikel seputar Crypto, NFT dan Metaverse.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *