Kategori
Trading Pemula

Apa Itu Kapitulasi Dalam Kripto? Hubungannya Dengan Harga Titik Terendah

Reading Time: 6 minutes

Kapitulasi dan harga titik terendah sering menjadi salah satu acuan dalam mengidentifikasi fase akhir dari sebuah siklus penurunan pasar. Dalam banyak kasus, tekanan jual yang ekstrem akibat kepanikan massal justru muncul mendekati fase market bottom. Artikel ini akan membahas mengenai apa itu kapitulasi dalam kripto, contoh kapitulasi, penyebab kapitulasi, cara mengidentifikasi kapitulasi, hubungannya dengan harga titik terendah, serta strategi entry pada kapitulasi.

Ringkasan Artikel

  • 💡 Kapitulasi Dalam Kripto: Kondisi emosional yang mendorong investor untuk melakukan penjualan aset, dampaknya bisa memberikan efek domino yang dipicu oleh berbagai macam peristiwa besar.
  • 🔎 Contoh Kapitulasi: Pada pandemi 2020, Bitcoin turun sekitar -60% akibat pergeseran likuiditas ke aset yang lebih aman. Sementara itu, sentimen negatif terhadap proyek tertentu seperti Solana juga pernah memicu penurunan lebih dari -95% dalam fase bear market.
  • 📈 Kapitulasi dan Market Bottom: Pergeseran sentimen dari pesimisme menuju optimisme secara bertahap, sering menjadi indikasi bahwa harga aset mendekati fase terbawah.
  • ⛓️ Ketidakpastian pasar, fase bear market, psikologi pasar, dan lemahnya fundamental aset dapat menjadi penyebab kapitulasi.

Apa itu Kapitulasi Dalam Kripto?

Kapitulasi dalam kripto adalah kondisi ketika keadaan investor terpaksa menjual aset secara masif dalam posisi merugi, akibat hilangnya keyakinan terhadap potensi pemulihan harga. Fenomena ini umumnya dipicu oleh tekanan psikologis atau kepanikan pasar. Kapitulasi adalah bentuk respon psikologi emosional dengan mengabaikan berbagai macam hal yang masuk akal demi keluar dari pasar.

Sekilas, penurunan harga pada fase kapitulasi tampak mirip dengan fase koreksi. Namun, fase koreksi merupakan penurunan harga yang relatif wajar sebagai bagian dari dinamika pasar, sedangkan kapitulasi mencerminkan fase kepanikan yang mendorong aksi jual secara agresif dan tidak lagi rasional.

Kapitulasi dalam pasar kripto dapat dipandang sebagai bentuk “seleksi alam” bagi investor, karena menguji tingkat keyakinan mereka terhadap aset yang dimiliki. Pada fase ini, harga cenderung turun secara berkelanjutan tanpa kepastian titik terendah, sehingga menciptakan tekanan psikologis yang lebih tinggi jika aset ditahan terus-menerus.

Investor yang keluar dari posisi karena menggunakan stop loss tidak sama dengan investor yang melakukan kapitulasi walaupun sama-sama merealisasikan kerugian. Stop loss adalah mekanisme untuk meminimalisir kerugian sesuai manajemen risiko yang dilakukan investor, sedangkan kapitulasi lebih didorong oleh tindakan emosional.

Contoh Kapitulasi Dalam Kripto

Solana FUD 2021

Sebagai contoh, seorang investor membeli Solana di harga $250, kemudian harga turun hingga 30%. Dalam kondisi tersebut, ia memiliki beberapa pilihan: melakukan akumulasi tambahan, menunggu pemulihan ke harga masuk, atau merealisasikan kerugian.

Keputusan menjual di tengah tekanan pasar yang kuat karena hilangnya keyakinan terhadap potensi pemulihan inilah yang disebut sebagai kapitulasi, terutama jika disertai kepanikan dan aksi jual yang bersifat emosional.

Biasanya setelah fase kapitulasi, harga aset kerap mengalami sideways atau bergerak datar hingga mengalami pemulihan. Contoh seperti gambar di atas, Solana mengalami penurunan dari $250 ke $10 dari November 2021 hingga Desember 2022, koreksi lebih dari 95% akibat FUD, kemudian harga mengalami sideways selama hampir setahun dan kembali pulih ke $250 di November 2024.

COVID-19 Market Crash

Pada Maret 2020, pandemi COVID-19 melanda hampir seluruh dunia dan memicu penjualan yang besar di pasar keuangan. Pasar saham maupun kripto ikut terdampak dalam hal ini, dengan BTC anjlok sekitar -60,17% dari $9.100 ke $3.650 dalam waktu kurang dari satu minggu. Kejatuhan tajam ini menjadi salah satu contoh fase kapitulasi di pasar kripto pada periode tersebut.

Penyebab Kapitulasi Dalam Kripto

Pergerakan harga yang dipicu oleh kapitulasi umumnya ditandai oleh penurunan tajam dengan volume tinggi dan tekanan jual yang masif. Meskipun sulit memprediksi tanda-tanda kapitulasi secara tepat, faktor pemicunya dapat diidentifikasi melalui beberapa kondisi berikut:

1. Ketidakpastian Pasar

Ketidakpastian makroekonomi, ketegangan geopolitik, atau peristiwa besar lainnya dapat memicu pergeseran sentimen menjadi risk-off. Dalam kondisi ini, investor cenderung menilai ulang posisi mereka karena risk-reward ratio dan imbal hasil dianggap tidak lagi sepadan. Hilangnya keyakinan inilah yang dapat mendorong tindakan kapitulasi.

2. Fase Bear Market

Kapitulasi sering muncul dalam fase bear market, yaitu periode ketika mayoritas aset mengalami penurunan signifikan dalam waktu yang relatif panjang. Secara historis, pada pergerakan harga Bitcoin, fase kapitulasi kerap terjadi setelah reli kuat yang diikuti koreksi tajam. Investor yang masuk pada harga tinggi lebih rentan mengalami kepanikan, terutama jika penurunan diperkuat oleh likuidasi besar dan tekanan jual institusional.

3. Psikologi Pasar

Unsur utama kapitulasi adalah tekanan emosional akibat ketakutan harga akan turun lebih dalam. Ketika investor tidak lagi mampu menoleransi volatilitas, keputusan jual sering kali diambil secara tidak begitu rasional.

Beberapa pendekatan yang dapat membantu mengelola risiko antara lain:

  • Menerapkan manajemen risiko dan menghindari eksposur aset berlebihan.
  • Menghitung risk-reward ratio sebelum membuka posisi.
  • Menghindari keputusan yang didorong oleh Fear of Missing Out (FOMO) dan mempertimbangkan momentum serta struktur pasar.
  • Mencatat jurnal trading untuk evaluasi dan konsistensi strategi.

4. Lemahnya Fundamental Aset

Kenaikan harga pada aset yang tidak didukung oleh fundamental yang kuat juga dapat memicu kapitulasi. Investor yang masuk semata karena dorongan FOMO dan spekulasi cenderung lebih rentan melakukan aksi jual ketika harga mulai terkoreksi.

Cara Mengidentifikasi Kapitulasi

Kapitulasi dalam pasar kripto dapat diidentifikasi melalui analisis struktur harga dan indikator pendukung. Beberapa cara yang umum digunakan antara lain:

  • Analisis siklus pasar. Pergerakan dari titik tertinggi menuju penurunan tajam sering kali mencerminkan perubahan psikologi pelaku pasar. Pola pada grafik harga merepresentasikan transisi dari optimisme menuju kepanikan, yang dapat diamati melalui struktur tren dan volume perdagangan.
Sumber data: Coinglass
  • Indikator on-chain. Salah satu metrik yang sering digunakan adalah Bitcoin Realized Loss, yang mengukur total kerugian terealisasi berdasarkan harga saat BTC terakhir berpindah tangan. Lonjakan signifikan pada metrik ini dapat mengindikasikan tekanan jual yang ekstrem yang identik dengan fase kapitulasi. Selain itu, indikator RSI (Relative Strength Index) juga biasa digunakan untuk mengukur seberapa ekstrem pembelian dan penjualan aset. Jika RSI di bawah 30, bisa menjadi tanda penjualan yang ekstrem.
Sumber data: HyperDash
  • Pergerakan smart money. Dalam fase penurunan ekstrem, keberadaan akumulasi oleh whales atau investor bermodal besar dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jual mulai direspons sebagai kesempatan oleh smart money. Aktivitas pembelian yang meningkat dari smart money ini sering kali menandakan fase transisi dari kapitulasi menuju potensi pembentukan dasar harga.
Pelajari juga mengenai smart money untuk mengetahui pengaruhnya terhadap aset kripto: Apa Itu Smart Money Di Kripto dan Cara Mengenalinya - Pintu Academy

Hubungan Antara Kapitulasi dan Bottom

Kapitulasi sering kali berdekatan dengan fase pembentukan dasar harga (bottoming phase), karena tekanan jual yang ekstrem sering kali direspons dengan pantulan harga yang cukup kuat. Namun, kapitulasi tidak selalu menandai titik terendah secara pasti, melainkan lebih tepat dipahami sebagai indikasi bahwa tekanan jual telah mencapai fase penurunan ekstrem.

Sumber gambar: ResearchGate.net

Pasar saham maupun kripto umumnya bergerak dalam siklus yang terdiri dari empat fase utama:

  1. Akumulasi
  2. Kenaikan harga (markup)
  3. Distribusi
  4. Penurunan harga (markdown)

Pada fase akumulasi, sentimen masih dipenuhi ketidakpercayaan terhadap potensi pemulihan. Fase kenaikan ditandai dengan optimisme hingga euforia. Distribusi terjadi ketika pelaku besar mulai melepas aset di tengah keyakinan publik bahwa tren naik akan berlanjut. Adapun fase penurunan sering berakhir pada kapitulasi, yakni kondisi ketika kepanikan memicu aksi jual secara masif.

Kapitulasi kerap berdekatan dengan fase pembentukan dasar harga karena tekanan jual begitu tinggi, disertai dengan volume yang meningkat. Namun, kondisi ini tidak selalu menandai titik terendah yang selalu pasti, melainkan menunjukkan bahwa suplai di pasar mulai terdistribusi. Waktu dan kedalaman fase tersebut tetap bergantung pada kondisi likuiditas dan sentimen makro ataupun fundamental.

Strategi Entry Pada Kapitulasi

Setelah mengetahui penyebab dan cara mengidentifikasi kapitulasi, fase kapitulasi bisa menjadi salah satu waktu terbaik untuk melakukan akumulasi atau pembelian aset di harga titik terendah atau buy the dip. Berikut ini cara terbaik memanfaatkan kapitulasi untuk masuk ke pasar:

1.Dollar Cost Averaging (DCA)

Dalam praktiknya, sebagian investor merespons volatilitas penurunan ekstrem melalui strategi DCA, yaitu melakukan pembelian secara bertahap dalam interval tertentu. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko kesalahan dalam menentukan titik masuk dan tidak bergantung pada kemampuan memprediksi waktu pasar.

2. Position Sizing

Menentukan ukuran posisi (position sizing) yang tepat bisa membantu membatasi potensi kerugian apabila harga terus berlanjut turun. Ketika dikombinasikan dengan strategi DCA, pengaturan ukuran posisi menjadi komponen penting dalam menjaga stabilitas portofolio dan mengelola risiko. Contohnya:

ModalAlokasi Capital (20%)Harga Beli BTCPenurunan
100 USDT20 USDT$70.0000%
80 USDT16 USDT$59.50015%
64 USDT12,8 USDT$50.575-27,75%
51,2 USDT10,24 USDT$42.989-38,59%
40,96 USDT8,19 USDT$36.541-47,80%

3. Menunggu Konfirmasi Teknikal

Selain akumulasi bertahap, sebagian pelaku pasar memilih menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum membuka posisi. Konfirmasi ini dapat berupa peningkatan volume pada saat terjadi pantulan harga, terbentuknya struktur higher low, atau pergerakan indikator RSI yang keluar dari zona penjualan yang ekstrem di atas 30.

Disclaimer: Semua informasi yang ditampilkan dalam artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi, rekomendasi, ajakan untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu, maupun dasar pengambilan keputusan finansial. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, tujuan investasi, dan toleransi risiko masing-masing.

Kesimpulan

Secara fundamental, tidak terdapat indikator yang dapat memastikan terjadinya kapitulasi dengan tingkat akurasi 100%. Setiap siklus pasar memiliki karakteristik, pemicu, dan intensitas penurunan yang berbeda. Meskipun demikian, dengan memahami pola, psikologi pasar, dan indikator pendukung, investor dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi fase penjualan yang ekstrem serta meminimalkan risiko melakukan kapitulasi secara emosional.

Referensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *