Kategori
Investasi

Adopsi Bitcoin Sebagai Cadangan Aset: Tren Baru di Dunia Keuangan Digital

Reading Time: 8 minutes

Strategi Bitcoin treasury adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepemilikan Bitcoin (BTC) dalam jumlah besar yang disimpan oleh perusahaan, institusi, bahkan negara sebagai bagian dari kas, cadangan, atau strategi investasi jangka panjang.

Strategi ini mulai populer sejak tahun 2020, ketika MicroStrategy mengambil langkah berani menjadikan Bitcoin (BTC) sebagai aset utama dalam kas perusahaan. Keputusan tersebut kemudian menginspirasi sejumlah perusahaan besar lain, seperti Tesla, Block (Square), hingga Gamestop, untuk ikut memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio treasury mereka.

Menariknya, tren ini tidak hanya terbatas pada perusahaan publik. Beberapa pemerintahan juga mulai melihat Bitcoin sebagai aset strategis. El Salvador bahkan menjadi negara pertama yang secara resmi mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran sah (legal tender) sekaligus menyimpannya dalam kas negara.

Ringkasan Artikel

  • 💡 Apa Itu Bitcoin Treasury – Strategi perusahaan, institusi, hingga negara dalam menyimpan Bitcoin (BTC) sebagai bagian dari kas, cadangan, atau investasi jangka panjang. Populer sejak MicroStrategy mengadopsi BTC pada 2020.
  • 🌍 Adopsi Perusahaan Global – Hingga 2025, perusahaan tercatat memiliki total 979.333 BTC (4,66% suplai Bitcoin). MicroStrategy jadi pemegang terbesar dengan 629.376 BTC.
  • 🏛️ Negara Pemilik Bitcoin Terbesar – AS (±200.000 BTC), China (±190.000 BTC), Bhutan (±12.500 BTC), Inggris (±61.000 BTC), El Salvador (±6.000 BTC), dan Iran (ribuan BTC).
  • 📑 Regulasi & Pajak – Uni Eropa (MiCA) & SEC AS setujui ETF Bitcoin spot. FASB ubah aturan akuntansi (Des 2023) dengan fair value accounting, lebih transparan untuk neraca perusahaan.
  • 🇮🇩 Adopsi di Indonesia – Q1 2025, investor crypto capai 14,16 juta (3 besar global), transaksi Rp35,61 T/bulan. Pemerintah kaji Bitcoin sebagai cadangan nasional lewat diskusi dengan komunitas.

Perusahaan Global yang Sudah Adopsi Bitcoin Sebagai Treasury

bitcoin holdings by company
Bitcoin Holdings by Company. Sumber: Coinmarketcap

Menurut data terbaru dari CoinMarketCap, total Bitcoin yang dimiliki oleh perusahaan saat ini mencapai 979.333 BTC. Jumlah tersebut setara dengan 4,66% dari total suplai maksimal Bitcoin yaitu 21 juta BTC.

Berikut adalah top 10 list perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar:

Nama PerusahaanTotal Kepemilikan Bitcoin/Bitcoin Holdings
Strategy629.376
MARA Holdings, Inc.50.639
XXI43.514
Bitcoin Standard Treasury Company30.021
Bullish24.000
Riot Platforms, Inc.19.287
Metaplanet18.888
Trump Media & Technology Group Corp.15.000
CleanSpark, Inc.12.703
Coinbase Global, Inc.11,776

Alasan Perusahaan Memilih Bitcoin Sebagai Cadangan Aset

Strategi Bitcoin corporate treasury makin diminati karena bisa mendukung tujuan keuangan dan operasional perusahaan secara lebih fleksibel. Beberapa alasan utamanya meliputi:

  1. Akses likuiditas global & fleksibilitas tinggi Bitcoin bisa diperdagangkan kapan saja dan di mana saja. Bagi perusahaan multinasional, menyimpan sebagian aset dalam bentuk Bitcoin membantu mempermudah transaksi lintas negara dan mempercepat akses dana.
  2. Perlindungan dari inflasi Dengan total suplai yang terbatas hanya 21 juta koin, Bitcoin dianggap lebih tahan terhadap inflasi dibanding mata uang fiat yang bisa dicetak tanpa batas. Performa BTC dalam 10 tahun terakhir yang sangat bagus memperkuat anggapan tersebut.
  3. Diversifikasi aset & peluang pertumbuhan Menempatkan dana perusahaan dalam Bitcoin membuka peluang diversifikasi dari aset tradisional seperti obligasi atau kas. Banyak perusahaan dan investor mulai melihat BTC sebagai investasi jangka panjang seperti emas atau saham.
  4. Menarik investor dari sektor tradisional Dengan menyertakan Bitcoin dalam neraca keuangan, perusahaan bisa menjangkau investor institusi yang belum bisa berinvestasi langsung di kripto. Instrumen seperti obligasi konversi atau saham yang nilainya terkait Bitcoin memberi akses tidak langsung ke pasar kripto melalui jalur legal dan terstruktur.

Risiko Simpan Bitcoin di Corporate Treasury

Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari diversifikasi aset, penting untuk melihat potensi risikonya secara objektif, yakni:

  • Volatilitas harga Pergerakan harga Bitcoin yang tajam bisa memengaruhi laporan keuangan dan menimbulkan risiko likuiditas. Jika harga turun drastis, kondisi keuangan perusahaan bisa terganggu, tergantung strategi yang digunakan.
  • Gangguan fokus bisnis utama Terlalu fokus pada Bitcoin bisa mengalihkan perhatian manajemen dari operasional inti, yang berisiko mengganggu arah dan strategi bisnis perusahaan.

6 Negara dengan Kepemilikan Bitcoin (BTC) Terbesar di 2025

Adopsi Bitcoin sebagai cadangan aset kini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan publik, tetapi juga oleh negara. Berdasarkan hasil studi terbaru dari Coingecko per April 2025, sekitar 463.000 BTC atau 2,3% dari total suplai Bitcoin dikuasai oleh pemerintah di berbagai negara pada 2025.

negara yang adopsi bitcoin
Sumber: Coingecko

Berikut adalah list 6 negara yang mengadopsi Bitcoin dengan nilai kepemilikan terbesar:

NegaraEstimasi KepemilikanAsal Kepemilikan BTCKeterangan Utama
Amerika Serikat±200.000 BTCPenyitaan (Silk Road, ransomware, dll.)Dibentuk Strategic Bitcoin Reserve sejak Maret 2025
China±190.000 BTCPenyitaan kasus PlusToken (2019)Disimpan di cold storage meski crypto dilarang
Bhutan±12.500 BTCPenambangan dengan energi terbarukan (PLTA)30–40% PDB, dikelola Druk Holding & Investments
Inggris±61.000 BTCPenyitaan kasus pencucian uang (2021)Dikelola Metropolitan Police & CPS, dipertimbangkan jadi cadangan
El Salvador±6.000 BTCPembelian langsung oleh pemerintahProgram “1 BTC per hari”, meski status legal tender dicabut
IranRibuan BTC (estimasi)Penambangan resmi, dijual ke Bank SentralDiduga kuasai 4–7% hash rate global di puncaknya

Perbandingan Bitcoin vs. Aset Tradisional Sebagai Cadangan

Dalam melihat peran aset cadangan suatu negara, emas dan minyak selama ini menjadi pilar utama yang menopang stabilitas moneter serta keamanan energi. Namun, hadirnya Bitcoin (BTC) sebagai aset digital dengan suplai terbatas dan sifat desentralisasi mulai menantang paradigma lama.

Setiap aset—emas, minyak, maupun Bitcoin—memiliki karakteristik unik terkait nilai, likuiditas, volatilitas, biaya penyimpanan, hingga peran strategis dalam perekonomian global. Berikut ini adalah perbandingan Bitcoin dengan aset tradisional yang selama ini digunakan sebagai cadangan nasional.

AspekEmasMinyakBitcoin (BTC)
Nilai Cadangan AS8.133 ton (Rp12.842 triliun)372 juta barel (Rp455 triliun)200.000 BTC (Rp258 triliun)
LikuiditasSangat tinggi, volume > Rp3.200 T/hariTerkait industri & geopolitik, fluktuatifTinggi, volume Rp487–Rp812 T/hari
VolatilitasRendah–sedangTinggi, dipengaruhi OPEC & geopolitikSangat tinggi, dipengaruhi spekulasi
Biaya PenyimpananMahal (vault, asuransi, transportasi)Sangat mahal (infrastruktur SPR)Relatif murah (custody digital)
Tantangan KeamananPencurian fisik, keaslian emasDepresiasi, kontaminasi, biaya besarRisiko siber, private key hilang
Peran StrategisHedge inflasi & cadangan moneterStabilitas energi & geopolitikHedge inflasi, alternatif desentralisasi
KetersediaanTerbatas tapi masih bisa ditambangTerbatas & dipengaruhi geopolitikTetap 21 juta BTC, tidak bisa ditambah

Emas dan minyak tetap menjadi tulang punggung cadangan AS karena nilai strategisnya terhadap moneter dan energi. Namun, Bitcoin mulai dipandang sebagai kandidat cadangan baru karena sifatnya yang desentralisasi, terbatas, dan mudah diakses. Meski volatilitasnya tinggi, meningkatnya adopsi institusi membuat Bitcoin kian relevan dalam diskusi cadangan nasional masa depan.

Dampak Adopsi Bitcoin pada Harga dan Pasar Crypto

Adopsi Bitcoin (BTC) terus meningkat di tahun 2025, didorong oleh masuknya investor institusi, pengesahan ETF Bitcoin, dan mulai diliriknya Bitcoin sebagai bagian dari cadangan strategis pemerintah.

dampak adopsi btc pada harga crypto
Sumber: Reuters

Sumber: Reuters

Lonjakan minat ini langsung tercermin pada harga, di mana Bitcoin sempat mencapai $123.153 yang setara dengan Rp2 miliar (kurs $1 = Rp16.227) pada 14 Juli 2025. Ini merupakan angka harga tertinggi BTC.

Nilai Kepemilikan BTC Microstrategy Capai Rekor di Angka $77,2 Miliar

Sumber: X Michael Saylor

MicroStrategy saat ini menjadi perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar, yaitu sebanyak 629.376 BTC. Di bawah kepemimpinan CEO Michael Saylor, mereka mulai membeli Bitcoin sejak Agustus 2020 dan terus menambah jumlahnya secara berkala.

Seiring dengan kenaikan harga Bitcoin (BTC), nilai kepemilikan Bitcoin Microstrategy juga meningkat ke rekor tertinggi senilai $77,2 miliar. Angka ini melonjak $35,4 miliar dibandingkan rekor sebelumnya di 2024 yang hanya $41,8 miliar.

Nilai Aset Bitcoin yang Dimiliki El Salvador Tembus $768 Juta

Sumber: X Nayib Bukele

Di sisi lain, langkah berani El Salvador dalam menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan nasional terus membuahkan hasil. Presiden Nayib Bukele mengumumkan bahwa negara tersebut kini mengantongi keuntungan belum terealisasi sebesar $468,3 juta dari kepemilikan BTC.

Dengan modal investasi awal sekitar $300,5 juta, nilai total cadangan Bitcoin El Salvador kini melonjak menjadi $768,8 juta. Kantor Bitcoin El Salvador merayakan pencapaian ini dengan menyebut strategi negara “berbuah besar” setelah nilai asetnya tembus lebih dari $770 juta.

Regulasi dan Pajak Terkait Corporate Bitcoin Treasury

Perkembangan regulasi aset digital di berbagai negara memberi kepercayaan lebih bagi investor dan korporasi dalam menjadikan Bitcoin (BTC) sebagai bagian dari treasury. Regulasi yang lebih ramah crypto, seperti kerangka hukum Markets in Crypto Assets (MiCA) di Uni Eropa dan persetujuan ETF Bitcoin spot oleh SEC Amerika Serikat pada Januari 2024, menghadirkan kepastian hukum serta transparansi yang sebelumnya belum tersedia.

Selain itu, pada Desember 2023 Financial Accounting Standards Board (FASB) mengubah aturan akuntansi untuk perusahaan yang menyimpan Bitcoin. Perubahan ini memungkinkan penggunaan metode fair value accounting, di mana aset digital dapat dicatat sesuai harga pasar saat ini.

Sebelumnya, perusahaan hanya bisa mencatat penurunan nilai, tanpa boleh mencatat kenaikan harga pasar. Aturan baru ini memberi gambaran yang lebih akurat terhadap nilai sebenarnya dari Bitcoin dalam neraca perusahaan, sekaligus mencerminkan kesehatan keuangan yang lebih transparan.

Trend Adopsi Bitcoin di Indonesia dan Global

Pada Q1 2025, jumlah investor crypto di Indonesia mencapai 14,16 juta, menempatkan Indonesia di peringkat ke-3 tertinggi secara global dalam adopsi aset digital. Pertumbuhan ini menunjukkan kenaikan sebesar 3,28% dibandingkan poin sebelumnya (13,71 juta), serta transaksi crypto yang menembus Rp 35,61 triliun hanya dalam sebulan.

Tingkat adopsi pengguna juga meningkat: pada 2025, diperkirakan mencapai 16,56% dari total populasi, dan diprediksi bertambah menjadi 16,98% pada 2026.

Selain itu, sektor korporasi di Indonesia mulai aktif masuk ke pasar Bitcoin. Pada 2025, ternyata akumulasi Bitcoin oleh sektor perusahaan melebihi arus masuk dari investor ritel dan produk ETF, menjadikan korporasi sebagai pendorong utama adopsi Bitcoin.

Indonesia Pertimbangkan Bitcoin sebagai Cadangan Nasional

Pemerintah Indonesia sedang mengeksplorasi kemungkinan menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan nasional. Informasi ini disampaikan oleh komunitas Bitcoin Indonesia setelah bertemu dengan pejabat di kantor Wakil Presiden untuk membahas potensi pemanfaatan Bitcoin dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sumber: X Bitcoin Indonesia

Bitcoin Indonesia mengungkapkan melalui platform X bahwa mereka diundang untuk memaparkan bagaimana Bitcoin dapat memberi manfaat bagi perekonomian nasional.

Salah satu ide yang disampaikan adalah penggunaan penambangan Bitcoin sebagai strategi cadangan nasional. Pembahasan juga mencakup peluang penambangan, inisiatif edukasi cryptocurrency, serta pemanfaatan teknologi blockchain.

Dalam presentasi tersebut, Bitcoin Indonesia menekankan potensi pemanfaatan sumber daya alam seperti tenaga air (hydroelectric) dan panas bumi (geothermal) untuk mendukung penambangan Bitcoin.

Strategi ini dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, sebagaimana telah terjadi di negara lain yang mengadopsi Bitcoin secara nasional.

Prediksi Ahli tentang Arah Adopsi Crypto Secara Global

Laporan Chainalysis pada Oktober 2024 menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam adopsi crypto di berbagai wilayah. Faktor utama yang memengaruhi adalah kondisi ekonomi, regulasi, dan ketersediaan infrastruktur digital. Dikutip dari Forbes, banyak ahli sepakat bahwa regulasi yang jelas akan menjadi kunci utama untuk membawa adopsi crypto ke tahap berikutnya.

Sumber: X Paul Grewal

Dalam sebuah thread di X, Paul Grewal, Chief Legal Officer Coinbase, optimistis aturan komprehensif aset digital segera terwujud lewat kerja sama Kongres dan Gedung Putih. Hal serupa disampaikan Summer Mersinger, CEO Blockchain Association sekaligus mantan komisaris CFTC, yang menekankan pentingnya regulasi aset digital yang konsisten dan matang di Amerika Serikat.

Sumber: X Summer Mersinger

Namun, ada juga pandangan bahwa potensi Bitcoin (BTC) tidak hanya terbatas pada pasar keuangan tradisional. Alex Gladstein dari Human Rights Foundation menekankan sifat Bitcoin yang kolaboratif dan terdesentralisasi, sejalan dengan semangat gerakan hak asasi manusia. Menurutnya, teknologi ini bisa membuka akses keuangan yang lebih luas, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mendukung kebebasan individu di berbagai belahan dunia.

Kesimpulan

Adopsi Bitcoin sebagai cadangan aset kini berkembang pesat, tidak hanya di kalangan perusahaan publik seperti MicroStrategy dan Tesla, tetapi juga oleh negara-negara seperti El Salvador, Amerika Serikat, hingga China.

Dengan karakteristik suplai terbatas, likuiditas global, dan potensi sebagai lindung nilai inflasi, Bitcoin mulai dipandang sebagai alternatif strategis bagi emas dan minyak.

Meski risikonya tinggi karena volatilitas harga dan tantangan regulasi, tren 2025 menunjukkan bahwa Bitcoin semakin relevan dalam ekosistem keuangan global dan berpotensi menjadi bagian penting dari strategi keuangan jangka panjang perusahaan maupun negara.

💡 Disclaimer: Semua artikel dari Pintu Academy ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.

Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *