Kategori
Investasi

Strategi DCA Aset Crypto untuk Investasi Jangka Panjang!

Reading Time: 11 minutes

Investasi aset crypto dikenal memiliki potensi keuntungan besar, namun di sisi lain juga penuh dengan volatilitas harga yang sering membuat investor bingung menentukan waktu terbaik untuk membeli.

Di tengah ketidakpastian pasar ini, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) hadir sebagai solusi sederhana namun efektif untuk berinvestasi secara konsisten. Dengan metode ini, para investor tidak perlu pusing dan bingung menebak-nebak harga terendah atau tertinggi, melainkan cukup menyisihkan dana dengan jumlah tetap secara rutin untuk mengakumulasi aset crypto dalam jangka panjang.

Artikel ini akan membahas seputar pengertian dan cara kerja DCA, manfaat, hingga cara memulai DCA untuk Bitcoin, Ethereu,dan altcoin lainnya.

Ringkasan Artikel:

  • DCA adalah strategi investasi yang sederhana namun efektif untuk mengumpulkan aset dalam jangka panjang.
  • Dalam jangka panjang, strategi DCA bisa membantu menurunkan rata-rata biaya pembelian per unit aset.
  • Berbeda dengan DCA, lump-sum investing adalah strategi di mana seseorang menempatkan sejumlah besar modal ke dalam satu investasi sekaligus.

Pengertian DCA (Dollar Cost Averaging) & Cara Kerjanya

Dollar-Cost Averaging (DCA) adalah sebuah strategi investasi yang membantu mengurangi ketidakpastian soal kapan waktu terbaik untuk masuk pasar, karena kita cukup mengikuti jadwal investasi tetap yang sudah ditentukan. Strategi ini juga mendorong disiplin untuk berinvestasi secara rutin.

Strategi DCA cukup sederhana, kita hanya perlu mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli aset secara rutin—bisa mingguan, bulanan, atau per kuartal—tanpa peduli harga aset saat itu. Tujuan utama DCA bukan untuk menjamin keuntungan atau menghindari kerugian, melainkan untuk mengumpulkan aset secara bertahap dengan harga rata-rata.

Lalu, bagaimana kerja DCA crypto? Mari kita buat skenario, jika harga Bitcoin saat ini $50.000 dan kamu langsung membeli dengan sistem lump sum, maka kamu akan mendapatkan 1 BTC dengan harga dasar (cost basis) $50.000.

Namun, jika dana $50.000 tersebut dibagi menjadi lima kali dengan strategi DCA yang pembeliannya masing-masing $10.000 pada periode bulanan— misalnya di $50.000/BTC, $45.000/BTC, $25.000/BTC, $25.000/BTC, dan $55.000/BTC — maka rata-rata harga dasar pembelian kamu turun menjadi $40.000 per BTC. Dari skenario ini, kamu akan mengumpulkan total 1,4 BTC.

Dengan berinvestasi jumlah yang sama secara konsisten, kita akan membeli lebih banyak unit saat harga murah dan lebih sedikit unit saat harga mahal. Dalam jangka panjang, strategi ini bisa membantu menurunkan rata-rata biaya pembelian per unit aset.

Manfaat DCA Crypto untuk Investasi Jangka Panjang

DCA adalah strategi investasi yang sederhana namun efektif untuk mengumpulkan aset dalam jangka panjang. Intinya, strategi ini mendorong kita untuk berinvestasi secara rutin dan disiplin, yang sangat bermanfaat terutama saat pasar sedang berfluktuasi.

Contoh DCA crypto, jika kamu memutuskan mengalokasikan $100 setiap bulan ke sebuah aset crypto, maka pembelian tetap dilakukan berapapun harganya.

  • Saat harga sedang tinggi, jumlah unit yang dibeli lebih sedikit.
  • Saat harga sedang rendah, jumlah unit yang dibeli lebih banyak.

Dalam jangka panjang, metode ini bisa membantu menurunkan biaya rata-rata per unit dibandingkan jika membeli sekaligus dalam jumlah besar pada satu waktu.

Lebih lanjut, berikut adalah beberapa manfaat DCA crypto untuk investasi jangka panjang:

Mengurangi Risiko

Dollar-Cost Averaging (DCA) crypto membantu mengurangi risiko investasi karena modal tidak langsung ditempatkan sekaligus, sehingga lebih terlindungi saat pasar jatuh. Dengan strategi ini, investor tetap punya likuiditas (uang tunai cadangan) untuk fleksibilitas mengatur portofolio.

DCA juga menghindarkan investor dari risiko membeli aset sekaligus ketika harganya terlalu tinggi akibat euforia pasar. Jika harga kemudian terkoreksi atau gelembung pecah, nilai portofolio bisa jatuh tajam.

Menggunakan DCA membantu mengurangi rasa penyesalan karena melindungi portofolio dari penurunan harga mendadak. Saat pasar turun, justru bisa jadi kesempatan membeli lebih murah dan akan meningkatkan potensi keuntungan jangka panjang ketika pasar kembali naik.

Disiplin Menabung

Strategi menambahkan dana secara rutin ke akun investasi membangun kebiasaan secara disiplin seperti menabung. Nilai portofolio akan terus bertambah, meskipun aset yang ada kadang sedang turun nilainya. Namun, jika penurunan pasar berlangsung lama, tentu ada risiko nilai portofolio ikut tertekan.

Menghindari Timing yang Buruk

Menentukan waktu terbaik masuk pasar (market timing) sangat sulit, bahkan bagi investor profesional. Jika salah menempatkan dana sekaligus, kerugian bisa besar. DCA membantu meratakan harga beli sehingga investor tidak perlu pusing memprediksi pergerakan pasar.

Mengelola Emosi dalam Investasi

Banyak investor terjebak dalam investasi emosional, misalnya karena takut rugi besar setelah membeli sekaligus. DCA membantu mengurangi faktor emosional ini. Dengan strategi beli rutin, investor bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang tanpa mudah terpengaruh berita atau hype jangka pendek dari media maupun pasar.

Cara Memulai DCA untuk Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin Lainnya

Jika seorang investor ingin mulai menerapkan Dollar-Cost Averaging (DCA) pada pembelian crypto yang sudah dimiliki, biasanya mereka sudah tahu aset mana yang akan ditargetkan.

Namun, bagi pemula di dunia crypto, sangat penting untuk melakukan riset mendalam (due diligence) terhadap token apa pun yang ingin dibeli—terutama sebelum mencoba strategi DCA. Hal ini membantu memastikan bahwa aset yang akan dikumpulkan memiliki fundamental yang cukup kuat untuk jangka panjang, bukan hanya mengikuti tren sesaat.

Berikut adalah beberapa aset crypto yang mengalami kenaikan cukup signifikan dalam waktu satu tahun terakhir berdasarkan data dari laman Pintu Market, yang bisa ditelusuri dan dipertimbangkan lebih lanjut.

1. Bitcoin

Sumber: Pintu Market

Pada 21 Agustus 2025, data Pintu Market menunjukkan bahwa Bitcoin (BTC) telah mengalami kenaikan 95,11% dalam waktu 1 tahun terakhir. Saat penulisan, harga Bitcoin berada di sekitar Rp1.851 miliar, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp36.934 triliun dan volume perdagangan harian sebesar Rp623,33 triliun.

Dalam periode 1 tahun terakhir, Bitcoin sempat berada di titik terendahnya Rp837.939.426, sebelum akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa barunya (All-Time High) di angka Rp1.987 miliar pada 13 Agustus 2025.

Simulasi Keuntungan DCA Bitcoin (Agustus 2024 – Agustus 2025)

Berikut adalah contoh simulasi jika seorang investor menggunakan strategi DCA Bitcoin setiap bulan dengan modal Rp2.000.000 selama 1 tahun terakhir.

Seorang investor memutuskan untuk menjalankan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) pada Bitcoin dengan menyisihkan Rp2.000.000 setiap bulan sejak Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Total modal yang dikeluarkan selama setahun adalah Rp24.000.000.

Dalam periode itu, harga Bitcoin berfluktuasi tajam, dari titik terendah sekitar Rp837 juta hingga mencapai puncak di kisaran Rp1,98 miliar. Tanpa perlu memprediksi kapan harga berada di level terbaik, investor konsisten membeli dengan jumlah tetap setiap bulan.

Hasilnya, ia berhasil mengumpulkan sekitar 0,00001984 BTC. Dengan harga Bitcoin per Agustus 2025 yang berada di kisaran Rp1,85 miliar, nilai kepemilikannya kini mencapai Rp36,72 juta.

Dengan kata lain, dalam 12 bulan, strategi sederhana ini berhasil memberikan keuntungan sekitar Rp12,72 juta, atau +53% dari modal awal.

Kasus ini menegaskan bahwa DCA bisa menjadi strategi efektif untuk mengurangi risiko salah timing, sekaligus tetap memberikan hasil yang solid di pasar kripto yang penuh volatilitas.

2. Ethereum

Sumber: Pintu Market

Pada 21 Agustus 2025, harga Ethereum (ETH) tercatat di level Rp70.245.534, naik signifikan 72,06% dalam periode satu tahun terakhir. Grafik pergerakan harga menunjukkan fluktuasi cukup tajam: sempat menyentuh titik terendah sekitar Rp25.246.783, lalu kembali bangkit hingga mendekati level tertinggi tahunan di Rp76.846.921.

Dari sisi fundamental, Ethereum memiliki kapitalisasi pasar Rp8.444 triliun dengan suplai beredar mencapai 120.707.592 ETH. Aktivitas perdagangan Ethereum juga sangat tinggi. Dalam 24 jam terakhir, volume global mencapai Rp647,04 triliun.

Simulasi Keuntungan DCA Ethereum (Agustus 2024 – Agustus 2025)

Berikut adalah contoh simulasi jika seorang investor menggunakan strategi DCA Ethereum setiap bulan dengan modal Rp1.000.000 selama 1 tahun terakhir.

Seorang investor memutuskan menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) dengan membeli Rp1.000.000 ETH setiap bulan pada tanggal yang sama, tanpa memedulikan naik-turunnya harga pasar. Strategi ini dijalankan selama Agustus 2024 – Agustus 2025 (12 bulan).

Berdasarkan data yang ditujukkan oleh Pintu Market, dalam periode 1 tahun terakhir, harga Ethereum sempat berada di titik terendah sekitar Rp25.246.783 dan melonjak hingga mencapai level tertinggi tahunan di Rp76.846.921. Total modal yang dikeluarkan investor selama setahun adalah Rp12.000.000.

Hingga Agustus 2025, dengan harga ETH di kisaran Rp70.245.534, total kepemilikan ETH dari strategi DCA tersebut bernilai sekitar Rp19.800.000 (estimasi). Dalam waktu satu tahun, investor berhasil membukukan potensi keuntungan sekitar Rp7.800.000, atau +65% dari modal awal.

3. XRP

Sumber: Pintu Market

Saat penulisan (21/8/25), harga XRP (XRP) berada di level Rp47.954, melonjak sangat tinggi dengan kenaikan 415,03% dalam setahun terakhir. Pergerakan grafik menunjukkan lonjakan besar dari titik terendah sekitar Rp7.892, sebelum mencapai level tertinggi tahunan di Rp57.996.

Dari sisi fundamental, XRP memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp2.834 triliun, dengan suplai beredar mencapai 59,41 miliar XRP dari total suplai maksimum 100 miliar XRP. Aktivitas perdagangan XRP juga cukup kuat, tercermin dari volume global 24 jam sebesar Rp104 triliun.

Simulasi Keuntungan DCA XRP (Agustus 2024 – Agustus 2025)

Berikut adalah contoh simulasi jika seorang investor menggunakan strategi DCA setiap bulan dengan modal Rp1.500.000 pada aset XRP selama 1 tahun terakhir.

Jika seorang investor menyisihkan Rp1,5 juta setiap bulan untuk membeli XRP sejak Agustus 2024 hingga Agustus 2025, maka ia berhasil mengumpulkan sekitar 822 XRP. Dengan harga XRP di akhir periode sebesar Rp47.954, nilai investasinya berkembang menjadi sekitar Rp39,4 juta dari modal awal Rp18 juta. Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) memberikan keuntungan lebih dari +119% hanya dalam 1 tahun, meski harga XRP naik-turun cukup tajam sepanjang periode tersebut.

Tips Memilih Aset untuk DCA Crypto

Sebelum memulai Dollar-Cost Averaging (DCA), langkah penting adalah memilih aset crypto yang tepat. Untuk itu, para investor perlu melakukan riset mendalam agar yakin proyek yang dipilih terpercaya dan punya masa depan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Parameter Penting dalam Memilih Crypto

  1. Ketahanan (Durability): Sejak kapan aset ini hadir di pasar? Karena DCA biasanya dilakukan dalam jangka panjang (bertahun-tahun), kripto yang dipilih sebaiknya sudah terbukti memiliki rekam jejak dan bertahan lama.
  2. Tren Pasar: Lihat sentimen pasar dan tren yang berkembang di media sosial, portal berita, dan komunitas kripto. Apakah orang-orang melihat proyek ini positif atau sebaliknya?
  3. Metrik Utama: Perhatikan volume perdagangan, riwayat pergerakan harga, dan likuiditas. Faktor-faktor ini bisa membantu menilai potensi jangka panjang.
  4. Fundamental Proyek:
    • Seberapa berpengalaman dan profesional tim pengembangnya?
    • Bagaimana struktur tokenomics-nya?
    • Apakah tim aktif di media sosial dan transparan soal perkembangan proyek?

Sumber informasi yang bisa digunakan antara lain: website resmi proyek, media sosial, review di portal crypto, hingga whitepaper proyek. Whitepaper sangat penting karena berisi penjelasan menyeluruh tentang visi, tujuan, dan cara proyek tersebut ingin mencapainya.

Tanda-tanda Proyek Crypto Red Flags

Sementara itu, kamu juga bisa menghindari beberapa proyek red flags dengan tanda-tanda:

  • Janji tidak realistis: Menawarkan keuntungan besar dengan risiko nol. Perlu dicatat, tidak ada investasi tanpa risiko.
  • Kurang transparansi: Tim, model bisnis, dan roadmap tidak jelas. Jika proyek tidak punya tujuan yang jelas, kamu harus berhati-hati.
  • Endorse selebriti palsu: Jangan mudah percaya jika ada figur terkenal dipakai untuk mempromosikan proyek, apalagi kalau tidak melalui kanal resmi.
  • Whitepaper tidak jelas: Whitepaper terlalu singkat, penuh klaim, atau banyak salah ejaan adalah tanda bahaya besar.
  • Roadmap tidak jelas: Proyek serius pasti punya peta jalan (roadmap) yang realistis. Jika tidak ada, itu adalah tanda bahaya.

Risiko dan Keuntungan Strategi DCA

Meski terlihat sederhana dan efektif, strategi DCA crypto juga punya beberapa risiko yang perlu diperhatikan.

Tidak Melindungi dari Pasar Turun Berkepanjangan

DCA crypto memang bisa membantu mengurangi risiko membeli di harga puncak, tapi tidak memberikan perlindungan penuh jika pasar jatuh terus-menerus. Nilai portofolio tetap bisa turun. Karena itu, manajemen risiko tetap penting, misalnya dengan melakukan diversifikasi ke berbagai aset lain seperti saham, obligasi, atau properti.

Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)

Dengan DCA crypto, investasi dibagi dalam jangka waktu tertentu. Artinya, kamu mungkin melewatkan keuntungan besar jika harga kripto langsung naik tajam setelah Anda mulai berinvestasi. Dibandingkan lump-sum investing (langsung menaruh modal besar sekaligus), hasil DCA bisa terasa kurang memuaskan bagi investor agresif yang mengejar keuntungan cepat.

Seperti contoh sebelumnya, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) membawa sejumlah keuntungan, terutama bagi investor jangka panjang, seperti:

Sederhana dan Mudah

DCA adalah salah satu strategi paling sederhana yang bisa digunakan siapa saja, baik pemula maupun berpengalaman. Tidak butuh analisis teknikal rumit, tidak perlu menebak timing pasar, dan bisa berjalan otomatis melalui program tabungan/investasi rutin.

Efek Bunga Berbunga (Compounding Effect)

Keunggulan lain yang tidak kalah penting adalah potensi efek compound. Jika harga Bitcoin atau crypto lain naik dalam jangka panjang, aset yang kamu beli lewat DCA bukan hanya naik nilainya, tapi juga menambah pertumbuhan portofolio secara keseluruhan. Efek ini bisa menghasilkan keuntungan jauh lebih besar dalam fase bull market.

DCA vs Investasi Lump Sum

Lump-sum investing atau investasi lump sum adalah strategi di mana seseorang menempatkan sejumlah besar modal ke dalam satu investasi sekaligus. Investor yang memilih strategi ini biasanya telah berhasil membangun aset dari waktu ke waktu dan mengurangi kewajiban finansial besar seperti cicilan rumah, sehingga punya kemampuan untuk melakukan investasi besar sekali jalan.

Di sisi lain, Dollar-Cost Averaging (DCA) umumnya menjadi strategi investasi yang lebih cocok bagi mereka yang belum memiliki modal besar. Strategi ini membantu “meratakan” harga beli, sehingga risiko membeli dalam jumlah besar saat harga sedang di puncak bisa dikurangi.

Pendekatan yang stabil dan bertahap ini juga menghilangkan tekanan untuk mencari timing pasar yang sempurna. Bahkan, DCA bisa dengan mudah diotomatisasi melalui program tabungan investasi rutin, sehingga proses investasi menjadi lebih mudah dan berjalan otomatis.

Kedua strategi, baik lump-sum investing dan DCA, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

  • Lump-sum investing bisa memberi peluang keuntungan besar jika harga crypto (atau aset lain) melonjak tajam setelah sempat turun. Namun, tantangan utamanya adalah menentukan titik terendah pasar, yang sulit diprediksi. Hal ini makin sulit di dunia crypto, karena harganya jauh lebih fluktuatif dibanding saham.
  • DCA, di sisi lain, memang tidak memberikan keuntungan instan sebesar lump-sum saat pasar naik cepat, tetapi strateginya lebih aman karena risiko “salah timing” bisa ditekan.

Oleh karena itu, pilihan terbaik bergantung pada toleransi risiko para investor serta seberapa konsisten seorang investor berkomitmen pada rencana investasi jangka panjang.

Platform atau Exchange yang Mendukung DCA di Indonesia

Bagi investor crypto di Indonesia yang masih bertanya-tanya terkait cara DCA crypto, kini menerapkan strategi DCA jadi lebih mudah berkat dukungan berbagai platform dan exchange lokal. Salah satu aplikasi yang menyediakan fitur ini adalah Pintu.

Saat ini, Pintu telah menghadirkan fitur Auto DCA, yaitu layanan yang memungkinkan pengguna membeli aset crypto secara otomatis dan rutin dengan jumlah tetap. Investor dapat menjadwalkan pembelian harian, mingguan, atau bulanan sesuai kebutuhan, tanpa harus repot melakukan transaksi manual setiap kali.

Dengan adanya Auto DCA, pengguna bisa berinvestasi lebih disiplin, konsisten, dan terhindar dari stres mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar. Fitur ini sangat cocok bagi investor pemula maupun berpengalaman yang ingin berinvestasi crypto jangka pajang.

Cara Menggunakan Fitur Auto DCA Crypto di Pintu

Tidak hanya satu aset, fitur Auto DCA Pintu juga menghadirkan Auto DCA Multiple Assets, di mana pengguna bisa membeli beberapa aset crypto sekaligus dalam satu jadwal otomatis. Sebagai contoh, dari dana Rp1.000.000 per bulan, pengguna Pintu bisa mengalokasikan 60% untuk BTC, 20% untuk ETH, dan 20% untuk XRP membangun portofolio secara konsisten, tanpa repot.

Berikut cara menggunakan fitur Auto DCA Multiple Assets:

  • Buka aplikasi Pintu lalu klik ‘Auto DCA’ atau ‘Nabung Rutin’.
  • Klik “Buat Nabung Rutin Baru” dan pilih beberapa aset crypto yang ingin kamu kumpulkan secara rutin
  • Tentukan nominal pembelian dan buat jadwal nabung rutin, bisa per jam, harian, mingguan, hingga bulanan
  • Konfirmasi nabung rutin crypto kamu dengan tap “Konfirmasi”, dan selesai!

Dengan fitur Auto DCA Multiple Asset Pintu, pengguna tidak hanya berinvestasi, tetapi juga membangun portofolio jangkpa panjang secara konsisten dan mudah.

Lalu, bagaimana frekuensi dan nominal yang ideal untuk DCA crypto? Pada dasarnya, frekuensi investasi dengan Dollar-Cost Averaging (DCA) sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan dan arus kas pribadi. Umumnya, investor memilih interval mingguan, dua mingguan, atau bulanan.

Pilihlah frekuensi yang sesuai dengan kemampuan kamu untuk berinvestasi secara konsisten tanpa membebani kondisi keuangan sehari-hari. Hindari terlalu sering mengubah jadwal investasi, karena hal ini dapat mengurangi efektivitas manfaat jangka panjang dari strategi DCA.

Kesimpulan

Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) menawarkan cara sederhana namun efektif untuk berinvestasi di pasar yang volatil seperti crypto. Dengan menyisihkan dana dalam jumlah tetap secara rutin, investor dapat menurunkan risiko salah timing, mengurangi beban emosional, serta membangun portofolio secara konsisten dalam jangka panjang.

Meskipun DCA tidak sepenuhnya melindungi dari kerugian ketika pasar jatuh berkepanjangan, strategi ini tetap menjadi pilihan populer karena mudah diterapkan, minim stres, dan cocok bagi semua level investor—baik pemula maupun berpengalaman.

Kuncinya adalah disiplin dan konsistensi. Dengan fokus pada tujuan jangka panjang dan tidak mudah terpengaruh fluktuasi pasar, DCA dapat menjadi fondasi kuat dalam perjalanan investasi kamu.

Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *