Harga komoditas, khususnya emas dan perak, mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Emas, misalnya, telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di $5.598/troy ounce, sementara perak turut menguat didorong oleh kebutuhan industri. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama kenaikan harga emas dan komoditas? Dalam artikel ini, kami akan mengulas faktor-faktor utama di balik kenaikan tersebut.
Ringkasan Artikel
- ⛏️ Produksi Emas Meningkat: Produksi tambang emas setiap tahun menambah sekitar 2–3% terhadap total stok emas yang sudah beredar, sehingga pertumbuhan pasokannya relatif terbatas.
- 🌏 Permintaan dari Bank Sentral dan Negara: China menjadi salah satu negara dengan akumulasi emas terbesar dalam lima tahun terakhir, dengan total sekitar 351 ton.
- 🧠 Multi Faktor Penyebab Kenaikan: Harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suku bunga riil, nilai dolar AS, kondisi geopolitik, serta dinamika supply and demand.
- 💽 Korelasi Pergerakan Harga Emas dan Inflasi: Data menunjukkan inflasi tidak menjadi penyebab utama yang mendorong kenaikan harga emas.
Sejarah dan Jenis Emas
Emas merupakan salah satu komoditas yang secara historis memiliki permintaan tinggi, baik sebagai perhiasan, cadangan devisa, maupun instrumen lindung nilai. Dalam beberapa tahun terakhir, harga emas menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, mencerminkan kombinasi berbagai macam faktor.
Salah satu karakteristik utama emas adalah kelangkaannya. Sebagai sumber daya alam yang terbatas, suplai emas tidak dapat diproduksi secara cepat. Bahkan, produksi tambang setiap tahun bertambah sekitar 2–3% terhadap total stok emas yang sudah ada menurut Investopedia.
Berikut ini adalah beberapa beberapa jenis produk emas yang paling umum diperdagangkan:
- Logam mulia
- Perhiasan
- Produk digital ETF (Exchange Traded Fund)
- Tokenisasi Emas seperti XAUT dan PAXG
Pelajari lebih lanjut mengenai perbandingan dan tokenisasi emas serta kaitannya dengan kripto: Perbandingan Emas Fisik, Digital, dan Crypto Berbasis Emas untuk Investasi Emas - Pintu Academy
Penyebab Utama Harga Emas Naik

Emas menjadi salah satu instrumen yang memiliki pergerakan harga relatif lebih kuat melampaui BTC sejak awal 2025. Dari data tradingview, harga emas terus mengalami kenaikan sejak awal 2025, sedangkan BTC mengalami koreksi sekitar 30%. Berikut ini beberapa penyebab utama kenaikan harga emas:
1. Pembelian Institusi dan Negara
Salah satu faktor yang mendukung menguatnya harga emas adalah bank sentral. Bank sentral global menjadi institusi yang telah melakukan pembelian emas secara masif dalam 3 tahun terakhir. Menurut riset J.P. Morgan, lebih dari 1.000 ton emas telah dibeli bank sentral global setiap tahun sejak 2022 dan proyeksinya, permintaan emas di tahun ini akan mencapai 755 ton.
Berdasarkan data dari World Gold Council dan Statista, beberapa negara seperti China, India, Jepang, dan Rusia telah menambah cadangan emas mereka secara konsisten mulai dari 30 hingga 351 ton sejak 5 tahun terakhir. Akumulasi emas dapat diinterpretasikan sebagai langkah diversifikasi candangan devisa untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Emas menjadi aset berharga yang sudah diakui di seluruh dunia dan sudah terbukti menjadi lindung nilai dalam berbagai macam peristiwa, salah satunya adalah krisis global 2008.
2. Melemahnya Nilai Tukar Dolar AS
Menurut data tradingview, index nilai tukar dolar US mengalami penurunan sebesar lebih dari -10% selama setahun terakhir, di rentang waktu yang sama emas mengalami kenaikan kurang lebih hingga 73% . Nilai tukar dolar AS dan hubungannya dengan pergerakan harga emas lumayan erat karena emas diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar AS. Artinya, pergerakan harga emas bisa disebabkan oleh kuat atau melemahnya nilai tukar dolar AS.
Ketika nilai tukar dolar AS melemah terhadap mata uang lain, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli di luar AS, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan emas dan dapat berdampak terhadap pergerakan harganya.
3. Suku Bunga
Suku bunga riil, yaitu suku bunga nominal setelah dikurangi tingkat inflasi, memiliki hubungan terbalik dengan harga emas. Ketika suku bunga riil tinggi, menyimpan uang di deposito atau obligasi memberikan imbal hasil di atas inflasi, sehingga investor cenderung memilih instrumen tersebut. Sebaliknya, ketika suku bunga riil rendah atau bahkan negatif, daya beli uang tunai justru menyusut seiring waktu meskipun disimpan di bank. Dalam kondisi ini, memegang emas menjadi lebih menarik karena meskipun emas tidak menghasilkan bunga atau dividen, nilainya tidak tergerus oleh inflasi seperti halnya uang tunai.
Sebagai contoh: jika suku bunga deposito sebesar 4% tetapi inflasi mencapai 6%, maka suku bunga riilnya adalah -2%. Artinya, meskipun secara nominal tabungan bertambah, daya beli justru berkurang. Dalam situasi seperti ini, emas berfungsi sebagai alternatif penyimpan nilai yang lebih tahan terhadap penurunan daya beli.
Berdasarkan data investing.com, jika dibandingkan sejak 2023, penurunan suku bunga The Fed dari 5,5% menjadi 3,75% di tahun ini terjadi seiring dengan kenaikan harga emas yang telah melampaui 100%. Korelasi ini menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter cenderung memberikan dampak terhadap kenaikan harga emas.
4. Ketidakpastian Geopolitik
Emas secara historis dipandang sebagai aset safe haven, terutama ketika terjadi ketidakpastian politik dan konflik geopolitik seperti ketegangan militer. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih stabil dan memiliki nilai intrinsik, seperti emas.
Ketidakpastian geopolitik dapat memicu volatilitas di pasar keuangan, tekanan terhadap mata uang tertentu, serta peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai. Dalam beberapa situasi, pelemahan dolar AS juga dapat memperkuat kenaikan harga emas, mengingat emas diperdagangkan dalam denominasi dolar sehingga menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Secara keseluruhan, dinamika ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik, pergerakan mata uang, dan peningkatan permintaan investor saling berkaitan dalam mendorong kenaikan harga emas.
Hubungan Inflasi dan Harga Emas

Salah satu persepsi paling umum adalah emas merupakan inflation hedge atau lindung nilai terhadap inflasi dan deflasi. Artinya, ketika harga barang-barang dan kebutuhan pokok naik karena biaya produksi yang semakin meningkat, harga emas secara historis ikut naik untuk mempertahankan daya beli. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Data Korelasi Inflasi dan Harga Emas
Menurut data dari World Gold Council, sejak tahun 1971 hanya sekitar 16% variasi harga emas yang dapat dijelaskan oleh perubahan inflasi (CPI). Secara statistik, angka ini menunjukkan bahwa inflasi bukanlah faktor utama yang mendorong pergerakan harga emas secara keseluruhan.
Temuan ini diperkuat oleh riset dari Federal Reserve Bank of Chicago yang menunjukkan bahwa hubungan antara emas dan inflasi memang sangat kuat pada era 1970-an, periode inflasi ekstrem di Amerika Serikat, namun korelasi tersebut melemah secara signifikan pada dekade-dekade berikutnya.
Analisis dari CFA Institute bahkan menemukan bahwa korelasi rata-rata antara perubahan harga emas dan inflasi dalam jangka pendek mendekati nol. Artinya, dalam horizon jangka waktu pendek, emas tidak secara konsisten bergerak searah dengan inflasi, sehingga perannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi lebih bersifat kontekstual daripada universal.
Kapan Emas Efektif sebagai Lindung Nilai Terhadap Inflasi?
Pada dasarnya, pilihan emas menjadi efektif ketika tingkat inflasi dapat melonjak tinggi tiba-tiba, terutama faktor utama yang menyebabkan hal tersebut yang dipicu oleh guncangan sisi penawaran (supply shock) seperti krisis energi atau memanasnya kondisi geopolitik seperti ketegangan militer. Emas juga efektif saat terjadi krisis mata uang, di mana kepercayaan terhadap sistem moneter menurun drastis.
Hal tersebut mendorong daya tarik emas semakin kuat karena opportunity cost untuk memiliki emas menjadi lebih kecil.
Tetapi jika kondisi inflasi moderat yang terkendali, misalnya di kisaran 2-4%, saat bank sentral berhasil menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, atau saat dolar AS menguat bersamaan dengan inflasi, emas bisa menjadi kurang begitu diminati.
Fenomena Kenaikan Komoditas (Perak, Uranium, Kobalt, dll.)

Selain emas, sejumlah komoditas lain juga mencatatkan kenaikan signifikan secara tahunan (YoY) berdasarkan data Trading Economics. Beberapa di antaranya bahkan mengalami lonjakan yang jauh lebih tinggi dari emas:
- Perak: +139%
- Kobalt: +161%
- Platinum: +112%
- Uranium: +37%
- Tembaga: +26%
Kenaikan ini menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak hanya terjadi pada satu komoditas tertentu, melainkan juga terjadi di sektor komoditas global. Berikut faktor penyebab kenaikannya.
1. Transisi Energi dan Elektrifikasi
Kenaikan harga kobalt dan tembaga sangat berkaitan dengan percepatan transisi energi dan pertumbuhan kendaraan listrik (EV). Kobalt merupakan komponen penting dalam baterai lithium-ion, sementara tembaga dibutuhkan dalam jumlah besar untuk infrastruktur listrik, panel surya, turbin angin, dan jaringan transmisi. Meningkatnya permintaan dari sektor energi terbarukan membuat pasokan komoditas ini semakin ketat.
2. Kembalinya Minat pada Energi Nuklir
Harga uranium naik karena meningkatnya kembali minat terhadap energi nuklir sebagai sumber energi rendah karbon. Sejumlah negara mulai memperpanjang umur reaktor nuklir lama dan merencanakan pembangunan reaktor baru untuk mendukung target net-zero emission.
Di sisi lain, pasokan uranium global sempat terbatas akibat penurunan produksi dalam beberapa tahun sebelumnya, sehingga ketidakseimbangan supply-demand mendorong harga naik.
3. Logam Mulia Selain Emas
Perak dan platinum juga mencatatkan kenaikan tajam. Perak tidak hanya berfungsi sebagai logam mulia, tetapi juga memiliki kegunaan industri, terutama dalam panel surya dan komponen elektronik.
Sementara itu, platinum banyak digunakan dalam catalytic converter kendaraan serta industri hidrogen. Ketika aktivitas industri meningkat dan sentimen terhadap logam mulia membaik, kedua komoditas ini ikut terdorong naik.
Risiko Investasi Emas
Setelah memahami berbagai faktor yang dapat mendorong kenaikan harga emas, penting untuk melihat sisi risikonya secara seimbang. Tidak ada instrumen investasi yang sepenuhnya bebas risiko, termasuk emas yang kerap dipersepsikan sebagai aset aman.
1. Potensi Koreksi Setelah Cetak Harga Tertinggi
Meskipun emas sering dikategorikan sebagai safe haven, pergerakan harganya tetap dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan dapat mengalami volatilitas signifikan. Sebagai contoh, dalam periode 28 Januari-1 Februari 2026, harga emas sempat mengalami koreksi hingga sekitar 20,78% setelah mencetak harga tertinggi barunya.
Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa sentimen pasar, aksi ambil untung (profit taking), serta perubahan ekspektasi makroekonomi dapat memicu tekanan jual dalam waktu singkat. Investor yang bereaksi secara emosional dan menjual saat fase koreksi berpotensi merealisasikan kerugian, meskipun secara historis sebelumnya harga kembali pulih. Koreksi pasar merupakan bagian alami dari siklus harga, termasuk pada aset yang relatif defensif seperti emas.
2. Tidak Ada Imbal Hasil (Yield)
Berbeda dengan obligasi, deposito, atau saham dividen yang memberikan arus kas berkala, emas fisik tidak menghasilkan pendapatan pasif. Keuntungan investor sepenuhnya bergantung pada selisih antara harga beli dan harga jual (capital gain).
Dalam kondisi suku bunga rill tinggi, instrumen berbasis pendapatan tetap menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif. Hal ini meningkatkan opportunity cost memegang emas, sehingga dapat menekan permintaannya.
Namun, perkembangan inovasi seperti tokenisasi emas memungkinkan investor memperoleh imbal hasil tambahan melalui mekanisme tertentu, seperti lending atau integrasi dengan ekosistem kripto. Meski demikian, imbal hasil tersebut tidak berasal dari emas itu sendiri, melainkan dari skema keuangan yang melingkupinya, sehingga tetap memiliki risiko tambahan.
3. Risiko Spread
Pada investasi emas fisik, ada beberapa biaya tambahan, hingga selisih harga beli dan harga jual (spread) yang biasanya lebih besar dibandingkan dengan saham atau ETF emas.
Spread yang besar membuat investor perlu menunggu kenaikan harga yang lebih tinggi agar bisa balik modal, apalagi jika melakukan pembelian dalam jumlah besar. Jika harga tidak naik cukup jauh, keuntungan bisa tergerus oleh selisih tersebut.
Dari sisi likuiditas, menjual emas fisik juga tidak selalu secepat menjual aset di pasar saham ataupun kripto. Prosesnya bisa memakan waktu dan bergantung pada tempat pembelian kembali. Hal ini perlu diperhatikan terutama jika investor membutuhkan dana dalam waktu cepat.
Beli Kripto yang Didukung Emas di Pintu
Bagi investor yang tertarik untuk membeli crypto yang didukung emas, tidak perlu khawatir. kamu bisa membeli XAUT dan PAXG di Pintu. Berikut ini adalah cara membeli aset crypto berbasis emas di Pintu:
- Buat akun Pintu dan ikuti proses verifikasi identitas untuk memulai trading.
- Di halaman beranda, klik tombol deposit dan isi saldo Pintu menggunakan metode pembayaran pilihan Anda.
- Buka halaman pasar dan cari XAUT atau PAXG.
- Klik beli dan isi jumlah yang Anda inginkan.
- Sekarang kamu memiliki emas di Pintu sebagai aset!
Anda dapat dengan aman dan nyaman membeli mata uang kripto lainnya seperti BTC, ETH, SOL, dan lainnya dengan aman dan mudah di Pintu. Pintu dengan rajin mengevaluasi semua aset kripto, menyoroti pentingnya berhati-hati.
Pintu juga kompatibel dengan dompet populer seperti Metamask untuk memudahkan transaksi Anda. Unduh aplikasi Pintu di Play Store dan App Store! Pintu adalah bursa yang teregulasi penuh dan disertifikasi oleh OJK dan CFX.
Selain membeli dan memperdagangkan aset kripto, Anda dapat memperluas pengetahuan Anda tentang mata uang kripto melalui berbagai artikel Pintu Academy.
Disclaimer: Semua artikel dari Pintu Academy ditujukan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat keuangan.
Kesimpulan
Kenaikan berbagai komoditas secara luas sering dikaitkan dengan fase commodity supercycle. Utamanya, emas kembali dilirik sebagai aset safe haven karena terbukti secara historis dapat mempertahankan nilainya dari waktu ke waktu. Meski begitu, berinvestasi di komoditas juga tetap memiliki risiko yang tidak dapat dihindari dari volatilitas harga yang disebabkan oleh multi faktor.
Referensi
- “Will gold prices break $5,000/oz in 2026?”, JP Morgan, diakses pada 13 Februari 2026.
- “Understanding the Dynamics Behind Gold Prices”, Investopedia, diakses pada 13 Februari 2026.
- “Understanding Gold Prices”, PIMCO, diakses pada 16 Februari 2026.
- “Invesment Update – Beyond CPI: Gold as a strategic inflation hedge” World Gold Council, diakses pada 16 Februari 2026.