Kategori
Trading Pemula

Mengenal Apa itu Moving Average dan Cara Membacanya

Reading Time: 6 minutes

Moving Average (MA) adalah indikator teknikal yang wajib diketahui, khususnya untuk trader pemula. Dengan menggunakan MA, trader bisa menganalisis tren, mencari sinyal masuk atau keluar dari pasar, serta digunakan sebagai titik support dan resistance dinamis. Ada tiga jenis MA yang sering digunakan untuk analisis. Apa saja jenis-jenis MA tersebut? Bagaimana cara menggunakannya? Simak selengkapnya di artikel berikut.

Ringkasan Artikel

  • 📈 Moving Average adalah indikator teknikal yang menghitung rata-rata harga aset selama periode waktu tertentu.
  • ♨️ MA terdiri dari Simple Moving Average (SMA), Exponential Moving Average (EMA), dan Weighted Moving Average (WMA).
  • ⚡ MA sering digunakan dalam trading untuk menganalisis tren, menghaluskan fluktuasi harga, dan sebagai sinyal untuk masuk atau keluar dari pasar.
  • 💪 Dalam analisis teknikal, MA dapat berfungsi sebagai titik support dan resistance dinamis, membantu trader mengidentifikasi potensi titik balik harga di pasar.

Apa itu Moving Average?

Moving Average (MA) atau rata-rata pergerakan merupakan indikator yang menunjukkan pergerakan harga aset ketika dirata-ratakan pada sebuah jangka waktu tertentu. Misalnya, MA 20 hari berarti menunjukkan garis rata-rata pergerakan harga selama 20 hari terakhir.

Indikator ini merupakan salah satu favorit trader karena menunjukkan momentum, sekaligus mempermudah trader melihat tren harga. MA juga menjadi indikator teknikal yang bisa digunakan untuk memprediksi pergerakan tren harga berdasarkan harga historikal.

Namun, seiring indikator MA harus mengikuti pergerakan harga terlebih dahulu, menjadikannya sebagai lagging indikator. Alhasil, ia merupakan indikator yang tidak terlalu responsif terhadap perubahan harga yang cepat. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, trader sebaiknya mengombinasikan MA dengan indikator teknikal lainnya.

Apa itu lagging indicator? Apa bedanya dengan leading indicator? cari tahu penjelasannya di sini.

Jenis-Jenis Moving Average

MA merupakan indikator yang menitikberatkan rata-rata harga pada jangka waktu tertentu. Alhasil, ia pun mempunyai berbagai macam jenis. Simple Moving Average, Exponential Moving Average, dan Weighted Moving Average merupakan indikator MA yang paling sering digunakan trader.

Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average (SMA) adalah indikator MA paling sederhana, sekaligus paling populer. Penghitunggannya sangat sederhana, yakni seluruh poin data terbaru dijumlahkan kemudian dibagi dengan jumlah datanya dalam periode waktu tertentu.

Pada SMA, data historis yang digunakan meliputi harga tertinggi, terendah, pembukaan, dan penutupan. Umumnya indikator ini digunakan untuk mengidentifikasi tren sekaligus mencari kapan waktu yang paling ideal untuk masuk atau keluar dari pasar.

Rumus Simple Moving Average

Sesuai dengan namanya, rumus yang digunakan untuk menghitung SMA terbilang sederhana. Misalnya, harga crypto A dalam 10 hari terakhir adalah 500, 450, 400, 470, 530, 560, 640, 700, 850, dan 900.

Berdasarkan data tersebut, untuk mencari nilai SMA dalam 10 hari maka perhitungannya sebagai berikut:

  • SMA 10 = (500+450+400+470+530+560+640+700+850+900)/10 = 600

Exponential Moving Average (EMA)

Jika dibandingkan SMA, Exponential Moving Average (EMA) mempunyai akurasi yang lebih baik. Hal ini dikarenakan EMA memberikan bobot lebih tinggi untuk harga yang lebih baru, sementara SMA memberikan bobot yang sama untuk semua harga. Dengan kata lain, EMA lebih sensitif terhadap pergerakan harga terkini ketimbang SMA.

Garis EMA dan MA di bawah grafik harga menandakan tren bullish.

Garis EMA dan MA di bawah grafik harga menandakan tren bullish.

EMA juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi tren harga. Jika grafik harga aset berada di bawah garis EMA, menandakan tren penurunan atau bearish. Sebaliknya, jika grafik harga berada di atas garis EMA, menandakan tren kenaikan harga atau bullish.

Pada umumnya, trader membagi garis EMA menjadi beberapa periode waktu seperti EMA 20 hari, 50 hari, dan 100 hari. Perbedaan ini digunakan untuk melihat pergerakan tren jangka pendek-panjang dan juga untuk menentukan level support dan resistance

Rumus Exponential Moving Average

Dalam menghitung EMA, ada dua perhitungan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Pertama trader harus menghitung SMA pada rentang waktu tertentu terlebih dahulu. Kedua, mengingat EMA menggunakan pembobotan, maka diperlukan adanya faktor pengali (multiplier). Rumus untuk faktor pengalinya adalah [2/(periode MA+1).

Sebagai contoh, setelah dihitung, SMA dalam 20 hari dari harga crypto B adalah Rp 1.123. Sementara untuk faktor pengalinya adalah [2/(20+1)], yakni 0,09.

Jika diketahui harga crypto B pada hari ke-21 adalah Rp 1.215, maka penghitungan untuk EMA 20 hari adalah sebagai berikut:

  • EMA 20 = 1.123+0,09(1.215- 1.123)= 1.131,28.

Cari tahu juga beragam indikator penting lainnya yang digunakan untuk analisis teknikal di artikel berikut.

Weighted Moving Average (WMA)

Weighted Moving Average (WMA) merupakan versi pengembangan SMA. Ia menambahkan bobot terdistribusi ke dalam penghitungannya. Pada WMA, data poin terbaru akan mendapatkan pembobotan yang lebih berat karena dianggap punya relevansi yang lebih tinggi dari data yang lebih lama. Hal ini bertujuan untuk memberikan akurasi perhitungan yang lebih tinggi.

Letak perbedaan antara WMA dan EMA adalah pada tingkat pembobotan pada data terbaru. Pada WMA, penurunan pembobotannya lebih merata dan konsisten. Keseluruhan jumlah pembobotan yang digunakan pada WMA harus berjumlah 1 or 100%.

Sementara pada EMA, tingkat penurunan pembobotannya bisa berbeda satu sama lain. Penurunannya bersifat eksponensial. Berbeda lagi dengan SMA di mana pembobotannya dibagi secara merata.

Rumus Weighted Moving Average

Secara matematis, berikut adalah rumus penghitungan untuk rata-rata tertimbang (weighted average)

Untuk mempermudah, berikut adalah contoh penghitungan WMA. Diketahui harga penutupan crypto C dalam lima hari terakhir untuk periode 1-5 Januari adalah Rp 70.500, Rp 71.800, Rp 69.900, Rp 73.000, dan Rp 73.200. Seiring ada lima data harga crypto dan keseluruhan jumlah pembobotan harus bernilai 1 atau 100%, maka angka pembagi yang digunakan adalah 15.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tingkat pembobotan pada harga terbaru adalah yang paling besar. Setelah memberikan bobot pada masing-masing harga, trader tinggal mengalikan harga tersebut dengan pembobotannya untuk mendapatkan WMA. Berikut ini adalah hasilnya.

TanggalHarga CryptoPembobotanWeighted Average
1 JanuariRp 70.5001/15Rp 4.700
2 JanuariRp 71.8002/15Rp 9.573
3 JanuariRp 69.9003/15Rp 13.980
4 JanuariRp 73.0004/15Rp 19.467
5 JanuariRp 73.2005/15Rp 24.400

Setelah itu, jumlahkan seluruh nilai wighted average, maka WMA periode 5 hari untuk crypto C adalah sebagai berikut:

  • WMA 5 hari: 4.700+9.573+13.980+19.467+19.467+24.400= Rp 72.120

Fungsi Indikator Moving Average

  • 🔍 Mengidentifikasi Tren Pasar. Fungsi utama dari MA adalah untuk mengidentifikasi tren pasar. Jika harga berada di atas MA, maka tren yang terjadi adalah uptrend. Sementara jika harganya di bawah MA, maka trennya adalah downtrend. Lalu, harga yang ada di sekitar MA menandakan tren sideways.
  • 🌊 Memperhalus Fluktuasi Data. Penggunaan MA juga bisa untuk memperhalus dan menghilangkan noise pada pergerakan crypto. Alhasil, tren pergerakan harganya bisa menjadi lebih jelas sehingga mempermudah indentifikasi pola dan level penting.
  • 💡 Memberikan Sinyal. Fungsi lain dari MA adalah memberikan sinyal terkait pergerakan harga aset. Dengan MA, trader bisa mengidentifikasi sinyal yang potensial untuk masuk atau keluar dari pasar.

Penggunaan Moving Average dalam Trading

Dua pola SMA yang paling populer dan sering digunakan adalah death cross dan golden cross. Sebuah death cross terjadi ketika SMA 50-hari berada di bawah SMA 200 hari. Munculnya death cross memperlihatkan sinyal bearish. Sementara itu, golden cross terbentuk ketika SMA jangka pendek berada di atas SMA jangka panjang. Jika dibarengi dengan volume trading yang tinggi, ia menandakan sinyal bullish.

Dalam praktiknya, MA juga bisa berfungsi sebagai titik support atau resistance dinamis. Berbeda dengan garis support dan resistance horizontal, ia bersifat dinamis karena secara konstan berganti mengikuti pergerakan harga terbaru.

Ketika grafik harga berada di atas garis MA, maka garis MA tersebut menjadi titik support. Sementara jika grafik harga berada di bawah garis MA, maka garis MA-nya menjadi titik resistance. Sebagai contoh, perhatikan grafik harga BTC/USD di bawah ini. Grafik harga tersebut menggunakan candle mingguan dan garis biru merupakan EMA 20.

Dapat dilihat, harga BTC beberapa kali menjadikan garis EMA 20 (garis biru) sebagai support. Ternyata support tersebut tidak tertembus dan harga justru rebound dan lanjut menguat. Begitupun ketika harga mencoba naik, garis EMA menjadi resistance. Perlu diingat terkadang harga tidak akan rebound secara sempurna dari EMA. Terkadang ia akan melewati garis terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke tren sebelumnya.

Namun, sama halnya pada support dan resistance, level tersebut dapat terlewati. Grafik di atas memperlihatkan ketika harga turun dan menembus garis EMA 20 (support), harga kemudian mengalami koreksi lanjutan. Titik support kemudian beralih menjadi resistance. Namun, ketika harga mengalami kenaikan dan melewati garis EMA 20 yang menjadi resistance, harga melanjutkan tren kenaikan. Titik resistance tadi berubah menjadi support.

TradingView jadi salah satu platform untuk menggunakan MA dan indikator lainnya. Yuk belajar cara menggunakannya di sini.

Kesimpulan

Moving Average (MA) adalah indikator teknikal yang menampilkan rata-rata harga aset selama periode tertentu. Ada tiga jenis utama MA: Simple Moving Average (SMA), yang sederhana dan populer; Exponential Moving Average (EMA), yang lebih sensitif terhadap harga terkini; dan Weighted Moving Average (WMA), yang memberi bobot lebih pada data terbaru untuk akurasi yang lebih tinggi.

MA sering digunakan dalam trading untuk mengidentifikasi tren pasar, memperlancar fluktuasi harga, dan memberikan sinyal masuk atau keluar. Selain itu, MA dapat bertindak sebagai support atau resistance yang bersifat dinamis. Namun, sama halnya dengan indikator teknikal lainnya, MA tidak bisa berdiri sendiri dan memberi sinyal palsu. Oleh sebab itu, pastikan untuk mengombinasikannya dengan indikator teknikal lainnya untuk hasil yang lebih akurat.

Beli Aset Crypto di Pintu

Setelah mengetahui jenis-jenis moving average, jangan lupa untuk mempraktikannya sebelum membeli aset crypto di Pintu. Kamu bisa membeli berbagai aset crypto seperti BTC, ETH, SOL, dan yang lainnya tanpa harus khawatir adanya penipuan melalui Pintu. Selain itu, semua aset crypto yang ada di Pintu sudah melewati proses penilaian yang ketat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Aplikasi Pintu juga kompatibel dengan berbagai macam dompet digital populer seperti Metamask untuk memudahkan transaksimu. Ayo download aplikasi Pintu di Play Store dan App Store! Keamananmu terjamin karena Pintu diregulasi dan diawasi oleh Bappebti dan Kominfo.

Selain melakukan transaksi, di aplikasi Pintu, kamu juga bisa belajar crypto lebih lanjut melalui berbagai artikel Pintu Academy yang diperbarui setiap minggunya! Semua artikel Pintu Akademi dibuat untuk tujuan edukasi dan pengetahuan, bukan sebagai saran finansial.

Referensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *